Di tengah derasnya
tekanan modernitas, produk budaya sebagai budaya adiluhung kreasi anak bangsa
dipertahankan eksistensi dan keberlangsungannya. Salah satunya adalah kesenian
daerah “Sintren” yang berkembag di sepanjang wilayah Pantura Jawa Tengah bagian
barat khususnya di Kabupaten Pemalang.
Kesenian Sintren
diawali dari cerita rakyat/legenda yang dipercaya oleh masyarakat tentang kisah
percintaan Sulasih dan R. Sulandono, seorang putra Bupati Mataram Joko Bahu
atau dikenal dengan nama Bahurekso dan Rr. Rantamsari.
Kesenian tari
Sintren dianggap unik, karena banyak yang mengatakan gerakannya di luar
kesadaran akal sehat, diiringi lagu dan beberapa alat musik sederhana. Seiring
dengan perkembangan zaman sintren sebagai suatu seni adalah salah satu dari
bagian kebudayaan yang terkena imbas arus modernitas. Bentuk-bentuk modernitas,
misalnya tempat-tempat hiburan yang bersifat modern antara lain: bioskop, café,
karaoke, mall, dan sebagainya menggusur keberadaan kesenian sebagai alternativ
hiburan yang mengandung unsur-unsur pendidikan dan pencerahan, khususnya
kesenian tradisional.
Kesenian Sintren
kehilangan pamornya antara lain karena masyarakat sendiri sudah tidak peduli
pada kesenian Sintren. Mereka beranggapan, pementasan kesenian Sintren sudah
tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Namun demikian
keberdayaan seni Sintren tetap eksis karena adanya semangat para pelaku seni
Sintren yang berusaha menghidupkan kesenian Sintren lebih dari sebuah
"pengabdian" untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang, atau
ingin mempertahankan nilai-nilai kearifan yang tersimpan di dalamnya,
sebagaimana yang dilakukan oleh anggota Paguyuban Sintren Slamet Rahayu Dusun
Sirau Kelurahan Paduraksa.
Perubahan
kebudayaan pada suatu masyarakat merupakan keniscyaan dan tidak dapat
dielakkan. Masyarakat tidak pernah statis, selalu dinamis berubah dari satu
keadaan ke keadaan lainnya yang disebabkan oleh berbagai faktor. Perubahan ini
dimaksudkan sebagai wujud tanggapan manusia terhadap tantangan lingkungannya.
Diakui atau tidak
suatu masyarakat tidak akan pernah terbebas dari gejala perubahan yang berjalan
sangat pesat, sehingga justru membingungkan manusia itu sendiri. Gejala
perubahan yang terjadi memiliki intensitas kuat memunculkan kekhawatiran
bagaimana ketangguhan daya tangkal nilai-nilai masyarakat yang telah mapan
menjadi goyah dan perlahan-lahan mengalami pemudaran.
Namun demikian
adanya dinamika masyarakat memberikan kesempatan kebudayaan untuk berkembang,
sehingga dapat dikatakan bahwa tidak ada kebudayaan tanpa masyarakat, dan tidak
ada masyarakat tanpa kebudayaan sebagai wadah pendukungnya.
Di tengah derasnya
tekanan modernitas, produk budaya sebagai budaya adiluhung kreasi anak bangsa
dipertahankan eksistensi dan keberlangsungannya, salah satunya adalah kesenian
daerah “Sintren” yang berkembang di sepanjang wilayah pantura Jawa Tengah
bagian barat khususnya di Kabupaten Pemalang.
Sintrenpun sebagai
salah satu kesenian daerah Kabupaten Pemalang tidak bebas dari pengaruh
modernitas. Keberadaannya kini semakin langka ditekan derasnya modernisasi.
Kesenian Sintren
Dari segi asal
usul bahasa (etimologi) Sintren merupakan gabungan dua suku kata “Si” dan “Tren”.
Si dalam Bahasa Jawa berarti “ia” atau “dia” dan “tren” berarti “tri” atau
panggilan dari kata “putri”. Sehingga sintren adalah “si putri” yang menjadi
pemeran utama dalam kesenian tradisional Sintren.
Sintren adalan
kesenian tari tradisional masyarakat Jawa Tengah di wilayah pantai utara,
khususnya di Pemalang. Kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Tengah dan
Jawa Barat, antara lain di Pemalang, Pekalongan, Brebes, Banyumas, Kuningan,
Cirebon, Indramayu, dan Jatibarang. Kesenian Sintren dikenal sebagai tarian
dengan aroma mistis/magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan
Sulandono.
Herusatoto
mengemukakan bahwa Sintren adalah seni pertunjukan rakyat Jawa-Sunda; seni tari
yang bersifat mistis, memiliki ritus magis tradisional tertentu yang
mencengangkan.
Legenda Sintren
Kesenian Sintren
diawali dari cerita rakyat/legenda yang dipercaya oleh masyarakat dan memiliki
dua versi, Pertama, berdasar pada legenda cerita percintaan Sulasih dan R.
Sulandono seorang putra Bupati di Mataram Joko Bahu atau dikenal dengan nama
Bahurekso dan Rr. Rantamsari. Percintaan Sulasih dan R. Sulandono tidak
direstui oleh orang tua R. Sulandono. Sehingga R. Sulandono diperintahkan
ibundanya untuk bertapa dan diberikan selembar kain (sapu tangan) sebagai
sarana kelak untuk bertemu dengan Sulasih setelah masa bertapanya selesai.
Sedangkan Sulasih diperintahkan untuk menjadi penari pada setiap acara bersih
desa diadakan sebagai syarat dapat bertemu R. Sulandono.
Tepat pada saat
bulan purnama diadakan upacara bersih desa diadakan berbagai pertunjukan
rakyat, pada saat itulah Sulasih menari sebagai bagian pertunjukan, dan R.
Sulandono turun dari pertapaannya secara sembunyisembunyi dengan membawa sapu
tangan pemberian ibunya. Sulasih yang menari kemudian dimasuki kekuatan spirit
Rr. Rantamsari sehingga mengalami "trance" dan saat itu pula R.
Sulandono melemparkan sapu tangannya sehingga Sulasih pingsan. Saat sulasih
"trance/kemasukan roh halus/kesurupan" ini yang disebut
"Sintren", dan pada saat R. Sulandono melempar sapu tangannya disebut
sebagai "balangan". Dengan ilmu yang dimiliki R. Sulandono maka
Sulasih akhirnya dapat dibawa kabur dan keduanya dapat mewujudkan cita-citanya
untuk bersatu dalam mahligai rumahtangga.
Kedua, Sintren
dilatar belakangi kisah percintaan Ki Joko Bahu (Bahurekso) dengan Rantamsari,
yang tidak disetujui oleh Sultan Agung Raja Mataram. Untuk memisahkan cinta
keduanya, Sultan Agung memerintahkan Bahurekso menyerang VOC di Batavia.
Bahurekso melaksanakan titah Raja berangkat ke VOC dengan menggunakan perahu
Kaladita (Kala-Adi-Duta). Saat berpisah dengan Rantamsari itulah, Bahurekso
memberikan sapu tangan sebagai tanda cinta.
Tak lama terbetik
kabar bahwa Bahurekso gugur dalam medan peperangan, sehingga Rantamsari begitu
sedihnya mendengar orang yang dicintai dan dikasihi sudah mati. Terdorong rasa
cintanya yang begitu besar dan tulus, maka Rantamsari berusaha melacak jejak gugurnya
Bahurekso. Melalui perjalan sepanjang wilayah pantai utara Rantamsari menyamar
menjadi seorang penari Sintren dengan nama Dewi Sulasih. Dengan bantuan sapu
tangan pemberian Ki Bahurekso akhirnya Dewi Rantamsari dapat bertemu Ki
Bahurekso yang sebenarnya masih hidup.
Karena kegagalan
Bahurekso menyerang Batavia dan pasukannya banyak yang gugur, maka Bahurekso
tidak berani kembali ke Mataram, melainkan pulang ke Pekalongan bersama Dewi
Rantamsari dengan maksud melanjutkan pertapaannya untuk menambah kesaktian dan
kekuatannya guna menyerang Batavia lain waktu. Sejak itu Dewi Rantamsari dapat
hidup bersama dengan Ki Bahurekso hingga akhir hayatnya.
Bentuk Penyajian Sintren
Sebelum
pertunjukan, biasanya diawali dengan tabuhan gamelan sebagai tanda akan
dimulainya pertunjukan kesenian Sintren dan dimaksudkan untuk mengumpulkan
massa atau penonton. Penonton biasanya datang bergelombang dan menempatkan diri
dengan mengelilingi arena, disambut dengan koor lagulagu dolanan anak-anak
Jawa, seperti lir-ilir, Cublek-cublek suweng, Padang Rembulan dan sebagainya.
Setelah itu
dilaksanakan pembakaran “dupa”, yaitu acara berdoa bersama-sama diiringi
membakar kemenyan dengan tujuan memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa
agar selama pertunjukan terhindar dari mara bahaya. Bahkan sebelumnya perlu
dilakukan acara ritual selama 40 hari terhadap penari Sintren untuk mencapai
kesempurnaan penampilannya.
Berikutnya adalah
tahapan menjadikan Sintren yang akan dilakukan oleh Pawang dengan membawa calon
penari Sintren bersama dengan empat orang pemain. Dayang sebagai lambang bidadari
(Jawa: Widodari patang puluh) sebagai cantriknya Sintren. Kemudian Sintren
didudukkan oleh Pawang dalam keadaan berpakain biasa dan didampingi para
dayang/cantrik. Pawang segera menjadikan penari Sintren secara bertahap,
melalui tiga tahapan. Tahap Pertama, pawang memegang kedua tangan calon penari
Sintren, kemudian diletakkan di atas asap kemenyan sambil mengucapkan mantra,
selanjutnya mengikat calon penari Sintren dengan tali melilit ke seluruh tubuh Tahap
Kedua, calon penari Sintren dimasukkan ke dalam sangkar (kurungan) ayam bersama
busana Sintren dan perlengkapan merias wajah. Beberapa saat kemudian kurungan
dibuka, Sintren sudah berdandan dalam keadaan terikat tali, lalu Sintren
ditutup kurungan kembali. Tahap Ketiga, setelah ada tanda-tanda Sintren sudah
jadi (biasanya ditandai kurungan bergetar/bergoyang) kurungan dibuka, Sintren
sudah lepas dari ikatan tali dan siap menari. Selain menari adakalanya Sintren
melakukan akrobatik diantaranya ada yang berdiri diatas kurungan sambil menari.
Selama pertunjukan Sintren berlangsung, pembakaran kemenyan tidak boleh
berhenti.
Kesenian Sintren
disajikan secara komunikatif antara seniman dan seniwati dengan penonton menyatu
dalam satu arena pertunjukan.6 Tetapi ada juga yang menuturkan bahwa asal usul
Sintren adalah upacara pemanggilan ruh. Ini jika dilihat dari lagu-lgunya yang
masih memiliki sifat magis religius dengan adanya adegan kesurupan (trance)
yang dialami seorang pemain intren. Juga dilihat dari sifat permainannya yang
masih dipimpin oleh seorang pawang sebagai shaman atau dukun.
Keunikan dalam
pertunjukan Sintren adalah penari yang berpakaian biasa dalam keadaan tubuh dan
tangan terikat mampu menjelma di dalam kurungan ayam jago yang di dalamnya
telah disediakan berbagai alat rias seperti cermin, bedak, gincu, seperangat
pakaian tari dan kaca mata hitam menjadi gadis cantik dan mengenakan pakaian
indah dengan hiasan wajah yang begitu sempurna dan memakai kacamata hitam.
Setelah beberapa waktu kurang lebih antara 20 menit sampai 60 menit penari
keluar dari kurungan sudah dalam tampilan yang berbeda saat masuknya. Kaca mata
hitam yang dimaksudkan untuk menutupi posisi biji mata sewaktu trance/kesurupan.
Balangan atau Temohan
Balangan yaitu
pada saat penari Sintren sedang menari maka dari arah penonton ada yang melempar
(Jawa : mbalang) sesuatu ke arah penari Sintren. Setiap penari terkena lemparan
maka Sintren akan jatuh pingsan (bila mengenai kepala). Pada saat itu, pawang
dengan menggunakan mantra-mantra tertentu kedua tangan penari Sintren diasapi
dengan kemenyan dan diteruskan dengan mengusap wajah penari Sintren dengan
tujuan agar roh bidadari datang lagi sehingga penari Sintren dapat melanjutkan
menari lagi.
Sedangkan temohan
adalah penari Sintren dengan nyiru/tampah atau nampan mendekati penonton untuk
meminta tanda terima kasih berupa uang ala kadarnya.
Lagu-lagu yang
dilantunkan dalam pertunjukan seni Sintren umumnya bersifat memanggil bidadari,
kekuatan ruh yang dipercayai dapat mendatangkan kekuatan tertentu, seperti
tercermin dalam lagu yang penulis masih ingat yaitu
Turun Sintren,
yang kurang lebih syairnya sebagai berikut:
Turun-turun
Sintren, turune widodari nemu kembang neng ayunan, kembange wijaya endah podho
temuruno neng sukmo, ono Sintren jejogetan bul-bul kemenyan, widodari kang
sukmo, podho temuruno podho sinuyudhan, podho lenggak-lenggok surake keprok
ramerame sing nonton podho mbalang lendang karo Sintrenne, njaluk bayar saweran
sa lilane.
Arti dalam bahasa
Indonesia kurang lebih sebagai berikut: Turun-turunnya Sintren, turunnya
bidadari Menemukan bunga di depan rumah, bunganya bunga Wijaya indah Semua
turun ke jiwa, ada Sintren menari-nari Asap-asap kemenyan membumbung, bidadari
yang merasuk ke jiwa, semua turunlah Semua bekerjasama, semua menari bersama,
tepuk tangan bersama dengan ramai sekali Semua yang melihat melempar selendang
kepada Sintren, Sintrennya meminta dibayar seikhlasnya
Tarian Sintren sangat
unik, karena banyak yang mengatakan gerakannya di luar kesadaran akal sehat,
diiringi lagu dan beberapa alat musik sederhana yaitu ; buyung, lodong bambu,
kecrek (terbuat dari sapulidi), dan hihid (kipas). Sekarang hihid diganti
dengan karet bahan sandal., namun menggugah selera untuk terus menari. Tua muda
melihatnya penuh antusias mengikuti, semua mata tertuju pada gerakan yang
melambangkan kesederhanaan.
Tahap Pemulihan Sintren
Tahap pertama,
penari Sintren dimasukkan ke dalam kurungan bersama pakain biasa (pakaian
sehari-hari). Tahap kedua, pawang membawa anglo berisi bakaran kemenyan
mengelilingi kurungan sambil membaca mantra sampai dengan busana Sintren
dikeluarkan. Tahap ketiga, kurungan dibuka, penari Sintren sudah berpakain
biasa dalam keadaan tidak sadar. Selanjutnya pawang memegang kedua tangan
penari Sintren dan meletakkan di atas asap kemenyan sambil membaca mantra
sampai Sintren sadar kembali, pertunjukan Sintren selesai.
Dahulu pertunjukan
Sintren sering dilakukan oleh para juragan padi sesaat setelah panen, sebagai
ungkapan rasa syukur atas keberhasilan pertaniannya atau pada musim kemarau
untuk meminta hujan, maka dalam pertunjukannya akan dilantunkan lagu yang
syairnya memohon agar diturunkan hujan. Namun kini pertunjukan Sintren sangat
jarang. Penulis teringat saat kecil pada periode waktu tahun 1975-1990-an masih
sering menjumpai di desa dan desa tetangga banyak dijumpai warga yang menanggap
pertunjukan Sintren, kini sangat sulit menjumpainya. Pertunjukan Sintren kini
dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke tempat lain oleh pelaku seni
Sintren.
Bahkan berdasar
pengetahuan penulis, saat ini hanya ada satu desa yang masih mempunyai grup
kesenian Sintren yang tetap eksis yaitu di dusun Sirau Kelurahan Paduraksa dan
Kabupaten Pemalang yaitu Paguyuban Sintren Lintang Kemukus dan Paguyuban
Sintren Slamet Rahayu yang diketuai oleh Radin Anom dengan jumlah pengurus 15
orang, selain itu kesenian sintren dapat juga dijumpai di Desa Banjarmulya
Kecamatan Pemalang.
Modernisasi
Dalam tulisan ini
akan dikaji bagaimana keberadaan seni daerah ‘Sintren’ dalam tarikan antara
tradisi dan modernitas melalui pendekatan fenomologi dengan menggunakan teori
modernisasi dan fungsional. Hal tersebut berdasar asumsi bahwa setiap unsur
budaya tidak akan pernah terbebas dari perubahan yang disebaban oleh arus
modernisasi.
Di mana salah satu
teori yang muncul dalam menjawab perubahan sosial masyaraat menuju modern
adalah teori modernisasi. Teori ini mendasarkan pada konsep evolusionisme.
Teori modernisasi ini dipelopori oleh Karl Marx, Max Weber dan Emile Durkhiem.
Secara historis
makna modernitas mengacu pada transformasi sosial, politik, ekonomi, cultural,
dan mental yang terjadi di Barat sejak abad ke-16 dan mencapai puncaknya pada
abad 19 dan 20. 9 Dari sudut pandang ini perkembangan masyarakat terjadi
melalui proses peralihan dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern.
Dalam teori
modernisasi klasik masih berasumsi bahwa negara Dunia ketiga merupakan negara
terbelakang dengan masyarakat tradisionalnya. Sementara negara-negara Barat
(Eropa dan Amerika Serikat) dilihat sebagai negara modern, sehingga gejala dan
kondisi yang terjadi dalam masyarakat diukur menurut pandangan Barat dalam
menentukan tingkat modernitas. Tidak salah jika Gramsci mengatakan telah
terjadi hegemoni budaya terhadap negara Dunia ketiga. Masyarakat kemudian lebih
banyak mengadaptasi nilai-nilai gaya hidup Barat sebagai identitas modern,
kecenderungan ini dilihat sebagai westernisasi.
Paling tidak
pengertian umum tentang modernisasi adalah proses sejarah pada transformasi
perubahan besar-besaran dari pertanian tradisional ke masyarakat industri
modern sejak masa revolusi industri abad XVIII. Proses modernisasi berlangsung
revolusioner, kompleks, sistematik, global, jangka panjang dan progresiv,
sehingga akan menghasilkan kristalisasi dan difusi modernitas klasik.
Teori ini
memandang bahwa perubahan bergerak secara linear dari masyarakat primitif
menuju masyarakat maju. Sedangkan teori fungsionalisme memandang bahwa
masyarakat sebagai sebuah sistem selalu berada dalam keseimbangan dinamis.
Perubahan yang terjadi dalam unsur sistem itu akan diikuti oleh unsur sistem
lainnya dan membentuk keseimbangan baru. Perubahan sosial dalam pandangan
modernisasi klasik, menitikberatkan kemajuan masyarakat modern terbentuk
melalui suatu proses yang sama.
Aliran baru teori
modernisasi tersebut mengandung pemikiran bahwa nilai tradisional dapat berubah
oleh karena dalam dirinya mengalami proses perubahan yang digerakkan oleh
perkembangan berbagai faktor kondisi setempat misalnya, faktor pertumbuhan
penduduk, teknik, dan apresiasi nilai budaya.
Antara tradisi dan modernitas
Sintren sebagai
suatu seni adalah salah satu dari bagian kebudayaan yang terkena imbas arus
modernitas, yang tidak tersaring secara ketat menyebabkan proses akulturasi
budaya berjalan lancar. Bentuk-bentuk modernitas, misalnya tempat-tempat
hiburan yang bersifat modern antara lain: bioskop, café, karaoke, mall, dan
sebagainya menggusur keberadaan kesenian sebagai alternativ hiburan yang
mengandung unsur-unsur pendidikan dan pencerahan, khususnya kesenian
tradisional.
Modernitas dalam
bentuk teknologi hiburan, besar pengaruhnya terhadap kesenian tradisional.
Kesenian tradisional membutuhkan proses yang lama dalam memahami dan
menampilkan, berbeda dengan teknologi hiburan modern yang bersifat instant. Di
sinilah akan terjadi cultural lag dalam kebudayaan berkaitan dengan keberadaan
kesenian tradisional. Menurut Koentjaraningrat, bahwa cultural lag adalah
perbedaan antara taraf kemajuan berbagai bagian dalam kebudayaan suatu
masyarakat. Artinya ketinggalan kebudayaan, yaitu selang waktu antara saat
benda itu diperkenalkan pertama kali dan saat benda itu diterima secara umum
sampai masyarakat dapat menyesuaikan diri terhadap benda tersebut.
Dalam kasus ini,
benda yang dimaksud di atas dapat diterapkan sebagai kesenian tradisional.
Suatu culture lag terjadi apabila irama perubahan dari dua unsur perubahan
(mungkin lebih) memiliki korelasi yang tidak sebanding sehingga unsur yang satu
tertinggal oleh unsur lainnya.
Dari fakta
tersebut menjadikan kesenian tradisional sebagai bentuk yang ketinggalan zaman.
Salah satu bentuk kesenian tradisional yang kentara terkena imbasnya adalah
kesenian tradisional Sintren.
Para pekerja seni
Sintren sebagai aset sumber daya manusia harus berjuang melawan modernitas,
sebagai kaum minoritas yang menyampaikan nilai-nilai egalitarian dalam
pementasannya, mereka telah ikut andil dengan caranya dalam pelaksanaan mengisi
pembangunan, baik fisik maupun non fisik/sosial demi kelangsungan hidup para
seniman Sintren tersebut.
Dalam pertunjukan
Sintren para penonton yang datang bukan hanya dari desa setempat saja. Dari
luar desapun banyak yang berdatangan untuk sekadar menonton ataupun
menginginkan romantisme lama atau ada juga yang menghendaki supaya budaya
setempat langgeng sampai anak cucu.
Dalam perspektif
lain sebenarnya kehadiran Sintren justru dapat menjadi alternatif bagi pelaku
seni sintren maupun masyarakat yang terlibat di dalam pertunjukan kesenian
tersebut, untuk pemberdayaan ekonomi mikro, ditengah himpitan modernitas dan
globalisasi yang secara masif menghimpit rakyat kecil, pementasan sintren
menjadi sesuatu yang mendatangkan manfaat secara ekonomi. Dibalik
kesederhanaan, keikhlasan, kepolosan, seorang gadis penari sintren ternyata
sedikit banyak mampu mendongkrak susana sepi menjadi keramaian penuh optimis
penduduk suatu desa. Di mana sebagian penduduk dapat memberdayakan eonomi skala
mikro melalui usaha dagang seperti; krupuk sambal, tahu aci, mainan anak-anak,
pecel, serundeng lumping kerbau dan lainlain, yang dilakukan dengan selalu
mengikuti pertunjukan keliling sintren dari satu desa ke desa lain.
Keberdayaan kesenian tari Sintren
Opini masyarakat
Pemalang terhadap kesenian Sintren sedikitnya ada tiga kategori yang mewakili
berbagai aliran opini yang berkembang di masyarakat.
Pertama, kelompok
masyarakat yang secara tegas (tanpa kompromi) menolak eksistensi kesenian
Sintren karena berasumsi bahwa kesenian Sintren tidak sejalan dengan nalar
keagamaan (penuh nuansa mistis). Kedua, kelompok yang mengakui eksistensi
kesenian Sintren dan berusaha melestarikannya. Kelompok ini terwakili oleh para
seniman dan pemerhati seni etnik. Ketiga, kelompok yang masa bodoh dan tidak
ambil pusing tentang Sintren dan masa depannya nanti.
Faktor yang
membuat kesenian Sintren kehilangan pamornya antara lain karena masyarakat
sendiri yang sudah tidak peduli pada kesenian Sintren. Mereka beranggapan,
pementasan kesenian Sintren sudah tidak relevan dengan perkembangan zaman.
Selain itu juga
tidak adanya wadah (sanggar) tempat bertemu sesama anggota dan para pemerhati
seni tradisional. Lemahnya manajemen grup Sintren, ditengarai juga ikut
memengaruhi citra kesenian Sintren. Dahulu, kesenian Sintren hanya dikelola
secara musiman dan baru bergerak jika ada undangan pentas ataupun festival
namun kini pertunjukan Sintren dilakukan secara berkeliling dari satu tempat ke
tempat lain.
Dalam pandangan
masyarakat pelaku seni tradisional. menghidupkan kesenian Sintren seakan tidak
lebih dari sebuah "pengabdian" untuk melestarikan budaya warisan
nenek moyang, atau hanya sekedar ingin mempertahankan nilainilai kearifan yang
tersimpan di dalamnya, sebagaimana yang dilakukan oleh anggota Paguyuban
Sintren Slamet Rahayu dusun Sirau Kelurahan Paduraksa.
Jadi,
mempertahankan nilai-nilai seni budaya itulah agaknya yang dijadikan
pertimbangan. Memutuskan menjadi penari Sintren barangkali merupakan sebuah
keberanian dan secara moral patut dihargai sebagai bentuk ketulusan menjaga
nilai-nilai kesucian. Dalam prosesi pementasan Sintren ada semacam persyaratan
khusus, si penari harus benar-benar masih perawan (suci) lahir batin, dalam
arti secara fisik masih gadis (perawan) dan secara psikologis belum terhegemoni
oleh pengaruh modernitas (masih lugu). Karena itu umumnya penari sintren
berasal dari kalangan gadis cilik usia sekolah setingkat kelas 5 atau 6 Sekolah
Dasar. Syarat lainnya hanya berkaitan dengan teknis, tentunya harus bisa
menari.
Kini Sintren di
Pemalang sebagai sebuah tradisi disebabkan tekanan modernitas hampir menjadi
sepenggal kenangan sejarah. Meski masih ada pihak yang berusaha
melestarikannya, terbukti di salah satu desa masih terdapat group Sintren yang
tampil secara keliling. Sebagaimana paguyuban seni Sintren Slamet Rahayu di
dusun Sirau Kelurahan Paduraksa Kecamatan Pemalang.
Kesimpulan
Dari uraian
tentang bagaimana pertunjukan Sintren di atas, dapat disimpulkan bahwa ada
beberapa makna yang terdapat di balik pertunjukan Sintren, antara lain:
pertama, makna mistis yang memiliki hubungan dengan perolehan secara magis
simpatetik. Ini tercermin lewat lagu-lagu yang dilantunkan dengan monoton tapi
sederhana dan mampu memberikan kekuatan tertentu, sehingga pemain Sintren dari
kondisi terikat kuat dapat lepas dan berpakaian dalam hitungan menit. Kedua,
makna teatrikal. Makna teatrikal ini digambarkan dengan tampilnya pawang dengan
pemain Sintren dan kurungan secara simultan. Lalu Sintren berganti rupa dalam
penampilannya sejak diikat dan dimasukkan ke dalam kurungan dan keluar lagi
serta masuk lagi dalam kurungan. Pertunjukan semacam itu merupakan adegan
teatrikal yang menarik bagi siapa pun yang melihatnya. Ketiga, makna simbolik.
Makna simbolik ini ditunjukan bahwa pertunjukan Sintren dahulu hampir slalu
ditampilkan pada saat selesai panen. Ini menunjukan rasa syukur atas
keberhasilan panen yang dimiliki oleh para petani yang ingin berbagi
kebahagiaan dan kebersamaan dengan warga sekitarnya, oleh karena itu dalam
pertunjukan Sintren juga dihidangkan berbagai macam makanan.
Dalam masa
kinipun, seni sintren menunjukan pesan egalitarian dan hubungan antara pencipta
dengan yang dicipta. Pesan egalitarian, karena untuk pertunjukkannya, segenap
warga yang ditempati pertunjukan sintren melakukan gotong royong mengumpulkan
uang untuk menjamu dan sekedar memberi transport anggota paguyuban sintren.
Hubungan pencipta dan yang dicipta, karena dalam pertunjukan sintren terdapat
lagu-lagu yang berisi permohonan kepada Sang Pencipta, kini bahkan dinyanyikan
shalawat nabi.
Meski tekanan
modernitas begitu kuat, tetapi sebagai seni tradisional keberdayaan seni
Sintren tetap eksis karena adanya semangat para pelaku seni Sintren yang
berusaha menghidupkan kesenian Sintren lebih dari sebuah "pengabdian"
untuk melestarikan budaya warisan nenek moyang, atau adanya keinginan kuat
mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang tersimpan di dalamnya,
sebagaimana yang dilakukan oleh salah satunya adalah anggota Paguyuban Sintren
Slamet Rahayu Dusun Sirau Kelurahan Paduraksa.
Pertunjukan
Sintren juga bisa menjadi alternatif membangkitkan ekonomi mikro rakyat kecil
dalam mencari pengahasilan tambahan ekonomi rumah tangga atas desakan kebutuhan
ekonomi dan sebagai upaya mencoba bertahan hidup sambil nguri-uri budaya
sendiri.
Sumber : https://media.neliti.com/media/publications/195088-ID-kesenian-sintren-dalam-tarikan-tradisi-d.pdf

0 Komentar