Hallo semuanya disini saya akan membahas tentang suatu kesenian yang ada di kota cirebon, yaitu adalah kesenian Sintren atau Tari Sintren yang menurut setiap orang berbeda- beda menanggapinya. Maaf jika artikel ini masih banyak sekali kekurangannya dan terima kasih kepada sumber yang sudah membantu saya dalam membuat artikel ini.
Siapa yang tidak bangga terhadap kesenian tari Indonesia yang begitu banyak. Dari sekian banyak Negara yang ada di dunia, Indonesialah yang memiliki kesenian tari yang sangat beragam. Mulai dari Sabang hingga Merauke, setiap suku memiliki seni tari yang berbeda, mereka memiliki seni tari khas daerah mereka sendiri. Di Indonesia, terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Akan tetapi, saat ini banyak seni tari yang dimiliki Indonesia, tidak terwarisi dengan baik dari generasi ke generasi berikutnya. Perubahan dan perkembangan zaman, hampir mengikis keberadaan banyak seni tari yang ada. Salah satu seni tari yang sudah hampir punah adalah kesenian sintren.
Siapa yang tidak bangga terhadap kesenian tari Indonesia yang begitu banyak. Dari sekian banyak Negara yang ada di dunia, Indonesialah yang memiliki kesenian tari yang sangat beragam. Mulai dari Sabang hingga Merauke, setiap suku memiliki seni tari yang berbeda, mereka memiliki seni tari khas daerah mereka sendiri. Di Indonesia, terdapat lebih dari 3000 tarian asli Indonesia. Akan tetapi, saat ini banyak seni tari yang dimiliki Indonesia, tidak terwarisi dengan baik dari generasi ke generasi berikutnya. Perubahan dan perkembangan zaman, hampir mengikis keberadaan banyak seni tari yang ada. Salah satu seni tari yang sudah hampir punah adalah kesenian sintren.
Dari segi asal usul bahasa atau etimologi, “sintren”
merupakan gabungan dua suku kata “Si” dan “tren”. Si dalam bahasa Jawa berarti
“ia” atau “dia” dan “tren” berarti “tri” atau panggilan dari kata “putri”
(Sugiarto, 1989:15). Sehingga Sintren adalah ” Si putri” yang menjadi objek
pemeran utama dalam pertunjukan kesenian sintren ini.
Sintren merupakan tari tradisional yang berasal dari
pesisir utara pantai Jawa Barat dan Jawa Tengah. Daerah persebaran kesenian ini
diantaranya di Indramayu, Cirebon, Majalengka, Jati Barang, Brebes, Pemalang,
Banyumas dan Pekalongan. Sintren dikenal juga dengan nama lain yaitu lais.
Kesenian sintren ini sebenarnya merupakan tarian mistis, karena di dalam
ritualnya mulai dari permulaan hingga akhir pertunjukan banyak ritual magis
untuk memanggil roh atau dewa, agar kesenian ini semakin memiliki sensasi seni
yang kuat dan unik.
Asal mula munculnya kesenian ini, tidak terlepas dari
sebuah cerita yang melatar belakangi kesenian ini. Namun, ada dua versi berbeda
yang menceritakan asal mula sintren. Versi yang pertama, menceritakan tentang
kisah percintaan Ki Joko Bahu (Bahurekso) dengan Rantamsari, yang tidak
disetujui oleh Sultan Agung Raja Mataram. Untuk memisahkan cinta keduanya,
Sultan Agung memerintahkan Bahurekso menyerang VOC di Batavia. Bahurekso
melaksanakan titah Raja berangkat ke Batavia dengan menggunakan perahu Kaladita
(Kala-Adi-Duta). Saat berpisah dengan Rantamsari itulah, Bahurekso memberikan
sapu tangan sebagai tanda cinta.
Tak lama terdengar kabar bahwa Bahurekso gugur dalam
medan peperangan, sehingga Rantamsari begitu sedih mendengar orang yang
dicintai dan dikasihi sudah mati. Terdorong rasa cintanya yang begitu besar dan
tulus, maka Rantamsari berusaha melacak jejak gugurnya Bahurekso. Melalui
perjalan sepanjang wilayah pantai utara Rantamsari menyamar menjadi seorang
penari sintren dengan nama Dewi Sulasih. Dengan bantuan sapu tangan pemberian
Ki Bahurekso akhirnya Dewi Rantamsari dapat bertemu Ki Bahurekso yang
sebenarnya masih hidup.
Karena kegagalan Bahurekso menyerang Batavia dan
pasukannya banyak yang gugur, maka Bahurekso tidak berani kembali ke Mataram,
melainkan pulang ke Pekalongan bersama Dewi Rantamsari dengan maksud
melanjutkan pertapaannya untuk menambah kesaktian dan kekuatannya guna
menyerang Batavia lain waktu. Sejak itu Dewi Rantamsari dapat hidup bersama dengan
Ki Bahurekso hingga akhir hayatnya.
Versi yang kedua menceritakan tentang Sulasih dan R.
Sulandono seorang putra Bupati di Mataram Joko Bahu atau dikenal dengan nama
Bahurekso dan Rr. Rantamsari. Percintaan Sulasih dan R. Sulandono tidak
direstui oleh orang tua R. Sulandono. Sehingga R. Sulandono diperintahkan
ibundanya untuk bertapa dan diberikan selembar kain (“sapu tangan”) sebagai
sarana kelak untuk bertemu dengan Sulasih setelah masa bertapanya selesai.
Sedangkan Sulasih diperintahkan untuk menjadi penari pada setiap acara bersih
desa diadakan sebagai syarat dapat bertemu R. Sulandono.
Tepat pada saat bulan purnama diadakan upacara bersih
desa diadakan berbagai pertunjukan rakyat, pada saat itulah Sulasih menari
sebagai bagian pertunjukan, dan R. Sulandono turun dari pertapaannya secara
sembunyi-sembunyi dengan membawa sapu tangan pemberian ibunya. Sulasih yang
menari kemudian dimasuki kekuatan spirit Rr. Rantamsari sehingga mengalami
“trance” dan saat itu pula R. Sulandono melemparkan sapu tangannya sehingga
Sulasih pingsan. Saat sulasih “trance/kemasukan roh halus/kesurupan” ini yang
disebut “Sintren”, dan pada saat R. Sulandono melempar sapu tangannya disebut
sebagai “balangan”. Dengan ilmu yang dimiliki R. Sulandono maka Sulasih
akhirnya dapat dibawa kabur dan keduanya dapat mewujudkan cita-citanya untuk
bersatu dalam mahligai perkawinan.
Untuk menjadi seorang sintren, persyaratan yang utama
adalah penari diharuskan masih gadis dan perawan. Hal ini dikarenakan seorang
sintren harus dalam keadaan suci dan penari sintren merupakan “bidadari”
dalam pertunjukan. Bahkan sebelum menjadi seorang sintren sang gadis diharuskan
berpuasa terlebih dahulu, hal ini dimaksudkan agar tubuh si gadis tetap dalam
keadaan suci. Karena dengan berpuasa otomatis si gadis akan menjaga pola
makannya, selain itu dia akan menjaga tingkah lakunya agar tidak berbuat dosa
dan berzina. Sehingga tidak menyulitkan bagi roh atau dewa yang akan masuk
kedalam tubuhnya.
Ada beberapa istilah dalam kesenian sintren. Yang pertama
adalah paripurna. Yaitu tahapan menjadikan sintren yang dilakukan oleh Pawang,
dengan membawa calon penari sintren bersama dengan 4 (empat) orang pemain.
Dayang sebagai lambang bidadari (Jawa: Widodari patang puluh) sebagai
cantriknya Sintren. Kemudian Sintren didudukkan oleh Pawang dalam keadaan
berpakain biasa dan didampingi para dayang/cantrik.
Dalam paripurna, pawang segera menjadikan penari
sintren melalui tiga tahap:
Tahap Pertama, pawang memegang kedua tangan calon penari
sintren, kemudian diletakkan di atas asap kemenyan sambil mengucapkan mantra,
selanjutnya calon penari sintren diikat dengan tali yang dililitakan ke seluruh
tubuh.
Tahap Kedua, calon penari sintren dimasukkan ke dalam
sangkar (kurungan) ayam bersama busana sintren dan perlengkapan merias wajah.
Beberapa saat kemudian kurungan dibuka, sintren sudah berdandan dalam keadaan
terikat tali, lalu sintren ditutup kurungan kembali.
Tahap Ketiga, setelah ada tanda-tanda sintren sudah jadi
(biasanya ditandai kurungan bergetar/bergoyang) kurungan dibuka, sintren sudah
lepas dari ikatan tali dan siap menari. Selain menari adakalanya sintren
melakukan akrobatik diantaranya ada yang berdiri diatas kurungan sambil menari.
Selama pertunjukan sintren berlangsung, pembakaran kemenyan tidak boleh berhenti.
Istilah yang kedua adalah balangan (Jawa :
mbalang). Balangan yaitu pada saat penari sintren sedang menari maka dari arah
penonton ada yang melempar sesuatu ke arah penari sintren. Setiap penari
terkena lemparan maka sintren akan jatuh pingsan. Pada saat itu, pawang dengan
menggunakan mantra-mantra tertentu kedua tangan penari sintren diasapi dengan
kemenyan dan diteruskan dengan mengusap wajah penari sintren dengan tujuan agar
roh bidadari datang lagi sehingga penari sintren dapat melanjutkan menari lagi.
Kemudian, penonton yang melemparkan uang tersebut diperbolehkan untuk menari
dengan sintren.
Kemudian yang terakhir adalah istilah temohan. Temohan
adalah penari sintren dengan nyiru/tampah atau nampan mendekati penonton untuk
meminta tanda terima kasih berupa uang ala kadarnya.
Sebelum memulai pertunjukan, maka akan dilakukan Dupan.
Dupan, yaitu acara berdoa bersama-sama diiringi membakar kemenyan dengan tujuan
memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar selama pertunjukan
terhindar dari mara bahaya.
Mulainya pertunjukan, adalah saat dimulainya tabuhan
gamelan sebagai tanda akan dimulainya pertunjukan kesenian sintren dan
dimaksudkan untuk mengumpulkan massa atau penonton. Kemudian juru kawih akan
membacakan mantra-mantra, “tambak tambak pawon. Isie dandang kukusan. Ari
kebul-kebul wong nontone pada kumpul” mantra ini untuk memanggil penonton, juru
kawih tidak akan berenti membacakan mantra tersebut hingga penonton kumpul.
Kemudian saat sintren akan dimasukkan roh. Biasanya roh
yang diundang adalah roh Dewi Lanjar, jika sang Dewi Lanjar, maka penari akan
terlihat lebih cantik dan membawakan tarian dengan cantik dan mempesona. Mantra
yang biasa dinyanyikan untuk memanggil Dewi Lanjar agar masuk ke dalam tubuh
penari adalah “nemu kembang yona yoni, kembange siti mahendra, widadari
temurunan, merasuki badan nira”. Kemudian setelah roh sudah masuk kedalam tubuh
penari, maka kurungan akan dibuka. Kemudian juru kawih membacakan syair
selanjutnya “kembang trate, dituku disebrang kana, kartini dirante, kang rante
aran man grana”. Maka munculah penari sintren yang sudah cantik jelita.
Tempat yang digunakan untuk pertunjukan kesenian sintren
adalah arena terbuka. Hal ini di maksudkan agar pertunjukan yang sedang
berlangsung tidak terlihat batas antara penonton dengan penari sintren maupun
pendukungnya. Pertunjukan sintren ini umunya lebih komunikatif, artinya
ada interaksi antara pemain dengan penonton. Bisa dibuktikan pada saat acara
balangan dan temohan, dimana antara penonton dan penari sintren terlihat
menyatu dalam satu pertunjukan dengan ikut menari setelah penonton melakukan
balangan pada penari sintren. Sintren yang menari biasanya didampingi dengan
penari pendamping dan seorang bodor atau pelawak.
Lagu-lagu yang dimainkan biasanya lagu jawa. Alat music
yang digunakan, awalnya merupakan alat yang sederhana. Seperti, gending dan
alat yang menyerupai dandang dan nampah, namun tetap asik untuk didengarkan.
Berbeda dengan sekarang, alat music yang digunakan menggunakan orkes. Mungkin
hal ini dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman dan menarik banyak
perhatian orang untuk menyaksikan pertunjukan sintren.
Busana yang digunakan penari sintren dulunya berupa
pakaian kebaya (untuk atasan) . Busana kebaya ini lebih banyak dipakai oleh
wanita yang hidup di desa-desa sebagai busana keseharian. Sekarang ini penari
sintren umunya menggunakan busana golek yang lebih nyentrik.
Dan berikut adalah penjelasan busana golek yang digunakan
oleh sintren saat ini :
"Baju keseharian, yang dipakai sebelum
pertunjukan kesenian sintren berlangsung."
Baju golek, adalah baju tanpa lengan yang
biasa dipergunakan dalam tari golek.
Kain atau jarit, model busana wanita Jawa.
Celana Cinde, yaitu celana tiga perempat yang panjangnya
hanya sampai lutut.
Sabuk, yaitu berupa sabuk lebar dari bahan kain yang
biasa dipakai untuk mengikat sampur.
Sampur, berjumlah sehelai/selembar dililitkan di pinggang
dan diletakkan di samping kiri dan kanan kemudian diutup sabuk atau diletakkan
didepan.
Jamang, adalah hiasan yang dipakai dikepala dengan
untaian bunga melati di samping kanan dan kiri telinga sebagai koncer.
Kaos kaki hitam dan putih, seperti ciri khas kesenian
tradisional lain khususnya di Jateng.
Kacamata Hitam, berfungsi sebagai penutup mata karena
selama menari, sintren selalu memejamkan mata akibat kerasukan “trance”, juga
sebagai ciri khas kesenian sintren dan menambah daya tarik/mempercantik
penampilan.
Pertunjukan sintren awalnya disajikan pada waktu
sunyi dalam malam bulan purnama dan menurut kepercayaan masyarakat lebih utama
lagi kalau dipentaskan pada malam kliwon, karena di dalam kesenian sintren
terdapat ritual dan gerakan yang sangat berkaitan dengan kepercayaan adanya roh
halus yang menjelma menjadi satu dengan penari sintren.
Persamaan pertunjukan zaman dahulu hingga sekarang
adalah, terkadang pertunjukan kesenian ini bisa juga di butuhkan untuk
memeriahkan hajatan perkawinan atau sunatan. Perbedaannya pada saat ini adalah,
waktu pertunjukan sintren semakin singkat dan terkadang ada yang memanipulasi
pertunjukan, yang artinya pertunjukan sudah tidak melibatkan roh lagi. Selain
itu, saat ini pertunjukan sintren yang diadakan akan dicampur dengan music
dangdut atau orkes, mungkin hal ini dimaksudkan untuk menarik perhatian
penonton yang lebih banyak.
Dalam masa era globalisasi saat ini, sulit sekali kita
menemukan pertunjukan sintren, bahkan di daerah asalnya sendiri pun sangat
sulit kita bisa menemukan grup yang menyajikan khusus sintren yang original.
Saat ini orisinalitas sintren sudah tidak seperti dulu, karena sudah dicampur
dengan music-musik lain terutama dangdut. Hal ini bisa saja, sintren dipaksa
untuk mengikuti perkembangan zaman yang ada, meskipun sisi orisinalitas tidak
lagi penting untuk diperhatikan.
Dalam pertunjukan saat ini juga, banyak dari grup yang
menampilkan kepura-puraan dalam pertunjukannya. Misalnya, ada yang berpura-pura
kerasukan, lalu mantra yang dibacakan terkadang tidak sungguh, sehingga tidak
mengeluarkan nuansa magis sedikitpun. Adapula yang menjadi penari tidak
benar-benar gadis, meskipun penampilannya muda dan menarik. Bahkan pakaian yang
ditampilkan oleh pendamping sintren/ dayang menggunakan pakaian yang modern.
Ya, ini adalah salah satu trik lagi untuk menarik perhatian penonton agar mau
menonton sintren.
Bagi masyarakat Pantura atau pantai utara Jawa, Sintren
bukanlah hal asing dalam keseharian mereka. Sintren adalah satu hiburan rakyat
yang mulai muncul saat Jepang bercokol di nusantara. Namun ada pendapat lain
yang menyatakan sintren, ternyata sudah dikenal sejak kolonialisme belanda
mencengkeramkan kukunya di bumi Jawa.
Sintren sebenarnya merupakan sebuah tarian yang berbau mistis dan berdaya magis. Tarian sintren bersumber dari cerita cinta kasih Putri Sulasih dan Raden Sulandono.
Tersebutlah kisah Raden Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Saat dewasa Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso. Akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan putri Sulasih memilih menjadi penari. Meski demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib. Pertemuan tersebut ternyata diatur oleh sang ibu, Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan Raden Sulandono.
Sejak saat itulah setiap pagelaran sintren, sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya. Namun banyak catatan untuk menjaga kesucian dan kesakralan tarian sintren, diantaranya sang penari haruslah masih belia dan suci. Ini syarat utama agar roh yang datang justru mampu mempercantik tampilan raga si penari sehingga setiap gerakannya juga mengandung daya magis.
Tarian sintren baru bisa dimulai ketika kurungan ayam yang menjadi naungan penari dibuka. Tarian akan terus berlangsung selama penari masih menggunakan kaca mata hitam dan musik berlagu. Tarian akan terhenti ketika ada penonton yang melempar koin (uang logam) atau kain (baju) dan mengenai penari. Namun tarian bisa segera dilanjutkan setelah pawang memberikan mantera barunya kepada sintren.
Biasanya ada 4 tahapan tarian dalam sebuah pertunjukan sintren. Tarian sintren biasanya diiringi sejumlah gending khas berlanggam pantura dengan diiringi bunyi gong, kecrekan, kendang. Namun seiring perkembangan kini musiknya juga dilengkapi iringan melodi gitar.
Pelengkap akhir sebuah cerita dalam tarian sintren adalah bodor atau penari pedamping yang berfungsi sebagai penyegar suasana dengan gerakan komedi atau lawak. Sehingga tarian bisa terkesan lucu dimata para penonton.
Gerakan zaman yang cepat dan membuat semua menjadi instant pada kenyataannya juga menyurutkan kehadiran sintren sebagai satu hiburan rakyat tradisional. Sintren kini lebih banyak diminati bukan sekedar sebagai penghargaan sebuah seni tapi lebih pada kaidah hiburan semata.
Unsur magis berdaya gaib-pun bergeser punah. Kini sintren bukan lagi dimainkan remaja lugu nan suci. Sebaliknya justru terkesan penari manapun bisa melakukannya asalkan ada yang nanggap. Tidak ada lagi pakem yang wajib dipatuhi sang penari ketika bersiap mementaskan tokoh penari seperti puasa atau belum tersentuh lawan jenis. Kini semua bisa ditawar, karena yang dipentingkan shanya hiburan semata yang bisa direkayasa dengan berpura-pura terasuki roh bidadari. Tidak heran sebuah pertunjukan sintren pada akhirnya harus berakhir hambar.
Merasuknya musik dangdut dengan peralatan lengkap juga turut menyudutkan keberadaan sintren sebagai sebuah media hiburan. Kesan modernisasi, pada kenyataannya justru mengikis kesenian-kesenian tua yang kini mulai hilang. Penonton lebih menyenangi gemuruh dan riuhnya alunan musik dangdut berikut gerakan erotis sang penyanyi ketimbang menikmati gerakan tarian roh sang sintren.
Alasan inilah yang membuat kesenian asli pantura ini kini mulai sulit ditemui termasuk dibasis-basis daerah sintren seperti Indramayu, Cirebon, Brebes maupun Tegal. Ironis memang saat banyak produk dan kesenian serta budaya kita diaku negeri tetangga, dan kita berteriak merasa terancam. Justru disisi lain kita mengabaikan kesenian dan budaya lama yang kini makin tergusur…. Lantas bagaimana warisan ini bisa terjaga untuk anak cucu kita ?.
Sudah sepantasnya kita kembali belajar mencintai dan mengenali aset dan kekayaan seni negeri sendiri karena bukan tidak mungkin seni budaya ini merupakan harta karun yang memang harus dan perlu digali untuk dilestarikan sebagai aset kekayaan negeri.
Sintren sebenarnya merupakan sebuah tarian yang berbau mistis dan berdaya magis. Tarian sintren bersumber dari cerita cinta kasih Putri Sulasih dan Raden Sulandono.
Tersebutlah kisah Raden Sulandono adalah putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Saat dewasa Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso. Akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan putri Sulasih memilih menjadi penari. Meski demikian pertemuan diantara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib. Pertemuan tersebut ternyata diatur oleh sang ibu, Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ketubuh Sulasih, pada saat itu pula Raden Sulandono yang sedang bertapa dipanggil roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan diantara Sulasih dan Raden Sulandono.
Sejak saat itulah setiap pagelaran sintren, sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya. Namun banyak catatan untuk menjaga kesucian dan kesakralan tarian sintren, diantaranya sang penari haruslah masih belia dan suci. Ini syarat utama agar roh yang datang justru mampu mempercantik tampilan raga si penari sehingga setiap gerakannya juga mengandung daya magis.
Tarian sintren baru bisa dimulai ketika kurungan ayam yang menjadi naungan penari dibuka. Tarian akan terus berlangsung selama penari masih menggunakan kaca mata hitam dan musik berlagu. Tarian akan terhenti ketika ada penonton yang melempar koin (uang logam) atau kain (baju) dan mengenai penari. Namun tarian bisa segera dilanjutkan setelah pawang memberikan mantera barunya kepada sintren.
Biasanya ada 4 tahapan tarian dalam sebuah pertunjukan sintren. Tarian sintren biasanya diiringi sejumlah gending khas berlanggam pantura dengan diiringi bunyi gong, kecrekan, kendang. Namun seiring perkembangan kini musiknya juga dilengkapi iringan melodi gitar.
Pelengkap akhir sebuah cerita dalam tarian sintren adalah bodor atau penari pedamping yang berfungsi sebagai penyegar suasana dengan gerakan komedi atau lawak. Sehingga tarian bisa terkesan lucu dimata para penonton.
Gerakan zaman yang cepat dan membuat semua menjadi instant pada kenyataannya juga menyurutkan kehadiran sintren sebagai satu hiburan rakyat tradisional. Sintren kini lebih banyak diminati bukan sekedar sebagai penghargaan sebuah seni tapi lebih pada kaidah hiburan semata.
Unsur magis berdaya gaib-pun bergeser punah. Kini sintren bukan lagi dimainkan remaja lugu nan suci. Sebaliknya justru terkesan penari manapun bisa melakukannya asalkan ada yang nanggap. Tidak ada lagi pakem yang wajib dipatuhi sang penari ketika bersiap mementaskan tokoh penari seperti puasa atau belum tersentuh lawan jenis. Kini semua bisa ditawar, karena yang dipentingkan shanya hiburan semata yang bisa direkayasa dengan berpura-pura terasuki roh bidadari. Tidak heran sebuah pertunjukan sintren pada akhirnya harus berakhir hambar.
Merasuknya musik dangdut dengan peralatan lengkap juga turut menyudutkan keberadaan sintren sebagai sebuah media hiburan. Kesan modernisasi, pada kenyataannya justru mengikis kesenian-kesenian tua yang kini mulai hilang. Penonton lebih menyenangi gemuruh dan riuhnya alunan musik dangdut berikut gerakan erotis sang penyanyi ketimbang menikmati gerakan tarian roh sang sintren.
Alasan inilah yang membuat kesenian asli pantura ini kini mulai sulit ditemui termasuk dibasis-basis daerah sintren seperti Indramayu, Cirebon, Brebes maupun Tegal. Ironis memang saat banyak produk dan kesenian serta budaya kita diaku negeri tetangga, dan kita berteriak merasa terancam. Justru disisi lain kita mengabaikan kesenian dan budaya lama yang kini makin tergusur…. Lantas bagaimana warisan ini bisa terjaga untuk anak cucu kita ?.
Sudah sepantasnya kita kembali belajar mencintai dan mengenali aset dan kekayaan seni negeri sendiri karena bukan tidak mungkin seni budaya ini merupakan harta karun yang memang harus dan perlu digali untuk dilestarikan sebagai aset kekayaan negeri.
Orang yang turut melestarikan kesenian ini juga sangat
terbatas. Masyarakat Indonesia saat ini umumnya lebih mengedepankan moderenitas
dalam gaya hidup mereka tetapi tidak memikirkan bagaimana moderenitas itu bisa
mengangkat kebudayaan mereka sendiri. Bisa saja pertunjukan sintren ditampilkan
dalam suasana yang lebih modern, misalnya dalam festival kebudayaan, seminar
pelestarian kesenian sintren, atau mengadakan event yang menampilkan kesenian
sintren.
Kesenian sintren ini sudah termasuk kesenian yang
langka. Bahkan di daerah asalnya sendiri kita sulit menemukan grup sintren.
Sungguh beruntung sekali orang yang pernah menyaksikan kesenian ini secara
langsung.
Kelangkaan kesenian ini, juga bersumber dari masyarakat
Indonesia yang tidak mau melestarikan dan mencintai kesenian mereka sendiri.
Jangankan untuk mencintai kesenian sintren, menjadi salah satu bagian dari
pertunjukan inipun mungkin mereka harus berfikir dua kali. Bisa saja mereka
berat harus menjalankan ritual yang menjadi syarat penari sintren. Misalnya
masih harus gadis dan belum menikah. Selain itu harus bersedia dimasuki roh
didalam tubuhnya.
Di masa globalisasi, sesungguhnya sangat mudah melestarikan
kesenian sintren. Jangan sampai kesenian sintren ini hilang di makan zaman. Ada
beberapa cara melestarikan kesenian ini, meskipun kita tidak harus menjadi
bagian dari grup sintren, kita bisa menjadikan pertunjukan sintren sebagai
objek utama dalam kebutuhan wisata budaya. Tidak sulit sesungguhnya menjadikan
sebuah kesenian menjadi objek wisata budaya. Hanya dengan keinginan yang besar
, kecintaan terhadap kesenian sintren dan kemampuan bekerjasama dengan grup
kesenian sintren, semua akan berjalan dengan baik.
Namun, kita tidak perlu khawatir akan kelangkaan kesenian
ini di masa globalisasi. Dari sekian juta lebih masyarakat Indonesia, ternyata
masih ada yang mau melestarikan kesenian ini. Di tahun 2002, kesenian ini
pernah diangkat kedalam sebuah film local berjudul sintren oh
sintren. Film produksi Sindoro Multimedia Studio’s tersebut menceritakan
tentang keinginan seseorang untuk menghidupkan kembali tradisi kesenian
sintren. Di film tersebut membandingkan betapa music dangdut lebih diminati daripada
kesenian sintren. Meskipun banyak kontrovesi tentang pemutaran film ini, yang
terpenting adalah masih ada orang kreatif yang mau membuat kesenian ini dikenal
oleh generasi lainnya. Dan mau menjadi bagian untuk melestarikan kesenian ini.
Selain itu, dalam festival budaya di Cirebon, kesenian
ini sering ditampilkan. Atau di festival budaya di Subang, Indramayu, Sumedang,
Bekasi, dan Karawang. Di Cirebon sendiri, hanya tersisa dua grup sintren
yang masih eksis saat ini, masing-masing adalah pimpinan Ny. Nani dan Ny. Juju.
Meskipun hanya tersisa sedikit, setidaknya ada bagian masyarakat Indonesia yang
mau melestarikannya.
Warisan budaya nenek moyang ini, jangan sampai hilang di
telan zaman yang semakin modern. Orisinalitas juga harus tetap dijaga
dalam pertunjukan kesenian ini. Budaya kita adalah budaya Indonesia, kesenian
kita adalah kesenian Indonesia. Jangan lebih kita mencintai budaya asing,
tetapi pelajarilah kesenian dan budaya yang lebih mewah yang kita miliki di
Negara tercinta ini, Indonesia. Kalau bukan kita sendiri yang mau
melestarikan kesenian yang unik ini? Siapa lagi?.
Sumber: http://kebudayaankesenianindonesia.blogspot.com/2012/05/kalau-bukan-kita-siapa-lagi-yang-bisa.html?m=1
http://djimodji-communication.blogspot.com/2010/06/ketika-sintren-tak-lagi-berdaya-magis.html?m=1




0 Komentar