Kesenian
tradisional terasa lebih terbelakang saat ini, dibandingkan dengan kesenian yang
bersifat populer. Hal ini dikarenakan kesenian populer dapat dinikmati oleh
semua masayarakat yang ada di dunia. Setiap masyarakat, baik sadar atau tidak
mengembangkan kesenian sebagai ungkapan dan pernyataan rasa estetik yang
merangsangnya sejalan dengan pandangan, aspirasi, kebutuhan, dan gagasan-gagasan
yang mendominasi. Pada umumnya kesenian yang tumbuh dan berkembang dalam
masyarakat bersifat sosio-religius, yakni tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
sosial dan erat kaitannya dengan kepercayaan masyarakat yang bersangkutan.
Setiap
daerah mempunyai kesenian tradisional yang mungkin akan terdengar asing bagi
daerah-daerah lain. Hal ini dikarenakan kesenian tradisisional tersebut hanya
berlaku di daerah tersebut. Ada juga beberapa kesenian tradisional yang menjadi
umum, artinya kesenian tradisional tersebut dapat dinikmati bahkan dimainkan
oleh masyarakat di Indonesia.
Kesenian
sebagai salah satu unsur kebudayaan yang merupakan perwujudan gagasan dan
perasaan manusia yang berkaitan dengan aktivitas manusia dalam kehidupannya. Kesenian
selalu dikaitkan dengan keindahan yang memberikan kenikmatan bagi manusia yang
melihatnya. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Suharti (2006; 61)
sebagai berikut:
Sebagai
salah satu unsur kebudayaan kesenian adalah betul-betul sebagai hasil perilaku
bermakna yang intinya dapat mengundang nilai plus bagi manusia, karena seni
selalu dikaitkan dengan keindahan atau hal-hal yang menarik dan memberi
kenikmatan bagi manusia. Sebab system budaya kesenian ada ide-ide untuk
penciptaan, norma-norma untuk memahami keindahannya, dan tujuan dari kesenian
tersebut.
Begitupun
dengan perkembangan dari salah satu kesenian tradisional pesisir pantai utara
khususnya di daerah Brebes. Di daerah Brebes terdapat keseniankesenian
tradisional antara lain Sintren Brebes, Burok, dan Reog Banjarharjo, tetapi
kesenian yang unggul adalah kesenian Sintren Brebes.
Kesenian
tradisional Sintren Brebes ini merupakan seni tradisi masyarakat di desa, dan
tidak diketahui siapa penciptanya, karena seni pertunjukan rakyat ini hidup
dalam kolektif masyarakat. Kesenian Sintren ini memiliki keunikan tersendiri
yaitu pelaku utamanya seorang gadis suci yang belum akil balik dan belum
terjamah tangan laki-laki yang digunakan sebagai media masuknya roh bidadari
sehingga penari mengalami intrance (tidak sadarkan diri).
Kesenian
Sintren muncul sebagai ungkapan rasa syukur kepada nenek moyang, dan rasa
syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan hasil panen yang
melimpah. Selain itu kesenian Sintren dipercaya dapat digunakan sebagai ritual
memindahkan hujan, penglaris dagangan, dan untuk menyembuhkan penyakit.
Biasanya pada waktu musim hajatan, baik khitanan maupun pernikahan Sintren banyak
yang menanggap, tidak hanya masyarakat Brebes saja tetapi juga daerah-daerah
disekitarnya.
Kesenian
ini didukung oleh kaum muda dan kaum tua dengan latar belakang yang berbeda.
Kaum tua mengadakan penyelenggaraan kesenian tradisional Sintren pada saat
musim kemarau dengan maksud untuk memohon hujan, sedangkan kaum muda (laki-laki)
mendatangi pertunjukan kesenian Sintren dengan tujuan yang khusus yaitu
berharap memperoleh jodoh yang diidamkan yaitu, seorang gadis cantik yang masih
murni (perawan). Gadis–gadispun banyak juga yang datang menonton kesenian
Sintren dengan maksud yang lain lagi yaitu untuk menentukan kenalan baru yang
diharapkan cocok untuk menjadi pasangannya. Kaum remaja, serta anak-anak
menonton kesenian Sintren tersebut dengan tujuan sekedar hiburan saja.
Kesenian
tradisional Sintren ternyata mampu memberikan hiburan sehat kepada masyarakat
dan membangkitkan semangat gairah untuk melangkah maju bergotong-royong
sehingga dengan mudah para tokoh masyarakat mengarahkan potensinya untuk
digerakan dalam membangun desa.
Kesenian
Sintren hidup subur dan berkembang sampai dengan kira-kira akhir akhir tahun
1800, dan sejak awal tahun 1900 kesenian Sintren mengalami kemunduran akibat
situasi kesulitan ekonomi yang melanda daerah Brebes pada saat itu, yang merupakan
salah satu faktor penyebab mundurnya kesenian Sintren.
Menjelang
tahun 1920 kesenian Sintren muncul lagi di arena pentas untuk menghibur
masyarakat. Kesenian ini setapak demi setapak maju seirama dengan timbul
tenggelamnya kehidupan masyarakat pendukungnya. Hal ini dilihat dari banyaknya
pementasan kesenian Sintren tersebut yang hampir setiap malamnya di padukuhan-padukuhan
daerah Brebes. Bahkan lebih sering dari satu pementasan dalam satu padukuhan
pada satu malam.
Pada
tahun 1940 kesenian Sintren kembali mengalami kemunduran yang cukup
memprihatinkan akibat ketidak-tentraman masyarakat karena tentara Jepang
menjajah Indonesia. Jaman pendudukan Jepang dirasa oleh rakyat sebagai jaman
yang cukup memberikan tekanan serta penderitaan kepada rakyat, sehingga minat
untuk menghibur mengadakan kesenian Sintren hilang sama sekali.
Kesenian
Sintren menjadi semakin langka setelah datangnya tentara Jepang ke Indonesia.
Sesekali pernah muncul pementasan kesenian Sintren, dan saat-saat yang demikian
itupun tampil dalam wajah yang suram, ditandai dengan kostumkostum yang
memprihatinkan dan juga dimainkan oleh seniman seniwati yang berwajah murung,
bertubuh kurus, disebabkan rasa penderitaan yang menghimpit diri para
pemainnya. Namun demikian, dalam keadaan prihatin itu setiap kesenian Sintren
muncul di arena kaum muda-mudi, remaja, dan kaum tua tetap menyempatkan diri
hadir menontonnya. Hal ini menandakan bahwa kesenian Sintren masih digemari
masyarakat.
Pada
tahun 1945 setelah Indonesia merdeka, keadaan kesenian Sintren semakin membaik
lagi meskipun kostum dan alat-alatnya tetap dalam keadaan yang menyedihkan.
Namun pada suatu ketika kesenian Sintren sempat menghilang sama sekali.
Kira-kira tahun 1953 penduduk di lokasi Sintren ini sangat takut terhadap
anggota pasukan DI/TII yang menganggap bahwa kesenian Sintren adalah kesenian
yang mendatangkan makhluk halus, dan mendatangkan makhluk halus ini merupakan
perbuatan yang bertentangan dengan agama yang berkembang di pantai utara
khususnya daerah Brebes. Masyarakat yang mempunyai (menghuni) wilayah Sintren
Brebes ini menyingkir ke desa yang dirasa aman. Sejak tahun 1960, yaitu sejak
meredanya kegiatan pemberontakan DI/TII di wilayah Kabupaten Brebes, kesenian Sintren
mulai muncul lagi dalam pementasan-pementasan. Bahkan mulai dipentaskan pada
acara hiburan pada orang-orang khajatan.
Menjelang
tahun 1965 kesenian Sintren terganggu oleh meletusnya Gerakan 30 S/PKI. Gerakan
ini dengan sangat drastis mematikan kegiatan kesenian Sintren untuk beberapa
saat karena gerakan tersebut menyeluruh di setiap pelosok wilayah Kabupaten
Brebes, dan mereka takut mengadakan kegiatan kesenian Sintren. Kira-kira pada
tahun 1970 kesenian Sintren mulai lagi ditelusuri oleh petugas-petugas
pemerintah, dalam hal ini oleh petugas-petugas Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Direktorat Jendral Kebudayaan.
Di
Brebes petugas-petugas Kantor Pembinaan Kebudayaan Kabupaten Brebes mulai
mencari tokoh-tokoh Sintren tersebut dalam rangka menghidupkan kembali.
Mulailah dihimpun seniman-seniman Sintren tersebut dan mulai dipentaskan. Sejak
saat itu satu demi satu menyusul muncul kelompok-kelompok Sintren Brebes yang
baru. Pada tahun 1981 pegawai Kebudayaan Kantor Depatemen Pendidikan dan
Kebudayaan Kabupaten Brebes mulai mengadakan pembinaan yang lebih intensif,
dengan mengarahkan sikap hidup para senimannya, memberikan bimbingan dan
penyuluhan teknis baik dalam hal pola lantai, rias, busana, syair, dan
sebagainya. Tentu saja dengan mempertahankan keasliannya.
Sumber: http://eprints.uny.ac.id/27472/1/Giska%20Fariz%20Al%20Alamin%2C%2007208244031.pdf

0 Komentar