Indonesia mempunyai seni tari yang cukup beragam dan masih disukai oleh masyarakatnya. Kita tentu masih mengenal tari Jaipong yang penampilannya sangat menghibur.  Ada juga Tari Seblang dari Banyuwangi, Tari Sigale-gale dari Samosir dan masih banyak lagi. Seni pertunjukan rakyat tersebut kebanyakan bersifat mistis. Salah satu dari tarian mistis tersebut, ada yang menggunakan rokok sebagai salah satu syarat pertunjukan tari tersebut. Tari Sintren namanya.
Tari Sintren adalah seni pertunjukan khas Sunda-Jawa yang masih eksis sampai sekarang. Tarian ini mirip dengan tari Jaipong yang menggunakan unsur magis tradisional dengan penuh gerak, lebih tegas, sesuai dengan detak-detak kendang dan bedug.
Ada banyak seni dan budaya di Jawa Barat. Termasuk seni dari kawasan Cirebon. Di kota yang terkenal dengan batik trusminya itu ada yang disebut dengan sintren. Apa itu sintren? Bagaimana awal kemunculannya? Sekilas pintas mari kita bahas.
Dalam situasi perang melawan penjajah Belanda dan sangat minim dalam bekal persenjataan masyarakat Cirebon-Indramayu dan sekitarnya tidak berpangku tangan apalagi menyerah pada keadaan yang berat dan menyakitkan. Beragam pikiran, lakuan, dan gerakan terus dicetuskan dan dilaksanakan dengan penuh kesadaran.
Untuk menyiasiati perlengkapan hebat Belanda serta menguatkan semangat juang para pemuda Cirebon mengadakan latihan perang dan cara melumpuhkan lawan. Para pemuda itu melatih kekebalan badan seperti kesenian debus Banten. Ditampilkan pula taktik memerdaya lawan dengan memberdayakan kelembutan dan kekuatan gadis pilihan untuk melumpuhkan lawan.
Ketika para pemuda Cirebon melakukan startegi perang tersebut terlihat oleh para sinyo Belanda. Malah, sebagian sinyo Belanda itu ada yang larut dan terpedaya karena adegan yang dipertontonkan para pejuang Cirebon. Tanpa disengaja atraksi strategi perang tersebut dinamai sintren, yang merupakan akronimn dari sinyo (pemuda/tentara Belanda) dan trenen (latihan).
Cerita lain mengabarkan, seperti yang termuat di pelbagai kepustakaan cetak dan elektronik, kesenian sintren bermula dari kisah Sulandono sebagai putra Ki Baurekso hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang gadis dari desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso, akhirnya R. Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.
Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih, pada saat itu pula R. Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R. Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya, dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).
Atas kisah cinta R. Sulandono dengan Sulasih maka kesenian sintren juga dikenal sebagai akronim dari She in trance, yang berarti penari perempuan yang sedang kerasukan. Dalam tataran ini, buana panca tengah melakukan kontak batin dengan buana nyungcung. Maka, bukan hal yang asing religiositas sangat berasa kala kesenian sintren berlangsung.
Orang Indonesia, khususnya Sunda dan Jawa, memang termasuk mahir dalam menyingkat kata. Bahkan kesenian sintren juga dikiratakeun sebagai sesantrian. Sebab sebagian pelaku kesenian sintren menggunakan pakaian dan lakuan seperti santri.
Meski sangat berasa unsur religiositas, bahkan beraroma bau magis dan mistis, kesenian ini hingga kini masih hidup dan berkembang di pelbagai wilayah di Cirebon, Indramayu, Kuningan, bahkan hingga Brebes dan Banyumas.
Busana yang digunakan penari sintren pada saat datang hanya kebaya dan kain. Kemudian ketika keluar dari kurungan penari mengenakan busana yang biasa mereka sebut dengan busana golek.
Baju Golek, yaitu pakaian yang biasa dipakai oleh penari golek berupa kebaya tanpa lengan. Kain atau jarik batik, yang dipakai sebagaimana biasa perempuan jawa memakainya. Sabuk, tempat untuk menggantungkan sampur atau selendang. Sampur atau selendang yang dililitkan di pinggang sebagai alat untuk menari. Jamang, yaitu perhiasan kepala semacam topi yang dihiasi untaian melati di kiri kanan telinga sebagai koncer. Kaos kaki dan kacamata hitam yang berfungsi sebagai penutup mata pada saattrance.
Lazim kesenian masyarakat pesesisir, kesenian sintren kerap dilakukan di ruang terbuka. Tak ada batas pemain dan penonton sintren. Bahkan, sebisa dapat pemain dan penonton sintren larut dalam pagelaran.
Pagelaran macam itu menandaskan masyaraat Cirebon amat menghargai kebersamaan. Tidak ada jurang pembeda atas nama jabatan, kekayaan, jenis kelamin, dan pelbagai status sosial.
Demi NKRI dan keragaman budaya yang banyak mengandung nilai-nilai luhur, mari kita lestarikan dan kembangkan kesenian sintren dari Cirebon.
Tari sintren terdiri dari empat babak. Di antara masing-masing babak, sang Sintren beristirahat untuk minum air putih, makan kembang telon, merokok siong yang disulutnya sendiri dengan pemantik api buka-tutup model kuno. Semuanya dilakukan dengan berlenggak-lenggok sambil duduk bersimpuh.
Karena tarian ini adalah tarian mistis, seorang pawang Sintren perlu menyiapkan beberapa sesajen untuk memanggil arwah berupa bunga, minyak wangi, air putih, kopi, dan rokok Siong, rokok dengan bahan tembakau, kelembak, dan kemenyan.
Rokok Siong dalam tari Sintren ini sudah ada sejak pertama kali kesenian ini muncul. Rokok ini pada mulanya dibungkus menggunakan nipah. Pada perkembangannya, jenis rokok ini dibungkus menggunakan kawung dan klobot.
Para penari Sintren yang sedang kesurupan biasanya meminta rokok jenis ini. Waktunya bisa di awal pertunjukan, saat menari ataupun saat penari istirahat sejenak sebelum memulai babak berikutnya.
Uniknya dalam tarian ini, ada dua tembang yang dinyanyikan ketika si penari Sintren sedang merokok: Mbako-mbako dan Ela-ela. Tembang dari sinden tidak akan berhenti jika si penari belum berhenti merokok.
(Tembakau-tembakau / penari Sintren sedang punya keinginan / apa keinginannya? Si penari Sintren yang suci ini sedang minta rokok / Tembakau-tembakau..)
(Ela-ela / Ela-ela rokok panjang bertali sutra / Ada penari Sintren sedang ingin merokok, tapi minta rokoknya ke siapa / Kakek duda punya utang, tapi nenek janda yang membayar utang / Bayar utang kepada siapa? / Membayar utang kepada penari Sintren yang sedang ingin merokok panjang bertali sutra)
Dengan rokok Siong sebagai syarat utama, keberadaan jenis rokok ini sangat diperlukan demi melestarikan tarian Sintren. Salah satu produsen yang masih memproduksi rokok Siong ini berada di Kebumen, Jawa Tengah. Mereka pun memberi merek khusus dipersembahkan untuk tarian Sintren, yaitu rokok Sintren. Maka tak heran banyak yang menganggap bahwa rokok Sintren adalah rokok mistis karena digunakan untuk salah satu sesajen dari tari Sintren.

Menurut Wastim jejak rokok wangi pada kesenian Sintren sudah ada sejak pertama kali kesenian ini muncul di Cirebon Jawa Barat. Setiap pentas pawang Sintren selalu menyediakan tembakau, kelembak, dan kemenyan. Ketiga rempah-rempah ini awalnya dibungkus menggunakan daun nipah yang banyak hidup di rawa atau daerah pertemuan antara aliran sungai dan laut.
Tapi pawang Sintren lebih suka menggunakan kawung ataupun kulit jagung kering (klobot) sebagai pembungkus racikan tembakau, kelembak, dan kemenyan. Kawung merupakan daun aren muda kering yang dipotong kecil-kecil seukuran papir (kertas rokok).
Setelah muncul rokok siong para dukun Sintren tidak lagi melinting tembakau, kelembak, dan kemenyan menggunakan kawung atau klobot. Mereka memilih membeli rokok siong di warung-warung pinggiran desa setempat. Rokok wangi dari Gombong Kebumen itu pun akhirnya menyatu ke dalam pertunjukan Sintren.
Penari Sintren yang sedang trance (kesurupan) sangat menyukai rokok jenis ini. Menurut Wastim setiap pawang Sintren pasti mengetahui kapan si penari Sintren sedang ingin merokok. Waktunya bisa di awal pertunjukan, saat menari, ataupun ketika si Sintren sejenak istirahat sebelum memulai babakan (babak) Sintren berikutnya.
“Ada Sintren yang menggunakan isyarat tapi ada juga yang secara langsung bicara kepada pawang. Kalau sukma antara Sintren dan pawang sudah menyatu, biasanya Sintren bisa langsung bicara minta rokok,” ujar Wastim.
Tentu saja si pawang ini tidak bisa menolak keinginan si Sintren. Dia akan langsung mengambil rokok wangi untuk diserahkan kepada si Sintren. Si penari Sintren pun merokok, klepas-klepus, bisa sampai habis sebatang ataupun hanya setengah.

Saat Sintren sedang merokok, para penyanyi (sinden) dan penabuh gamelan pun mengerti apa yang harus segera dilakukan. Mereka langsung menyanyikan lagu berbahasa Jawa berjudul Mbako-mbako. Tembang ini juga diyakini sebagai mantra magis.

Sumber : 
https://m.ayocirebon.com/read/2019/10/08/3498/cerita-sintren-seni-bersejarah-dari-cirebon
https://satelitpost.com/regional/banyumas/rokok-kelembak-menyan-si-sintren