Folklor
Menurut James Danandjaya, folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat (mnemonic device). Folklor sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri di indonesia,  yang mana belum lama dikembangkan orang dewasa ini. Folk yang sama artinya dengan kata kolektif (Collectovity). Sedangkan lore adalah adalah tradisi folk, yaitu sebagian kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun secara lisan atau melalui contoh yang disertai gerak isyarat. Folklor merupakan hazanah sastra lama.

Folklor sebagai Lisan
Sintren merupakan seni pertunjukan rakyat yang didalamnya terdapat tarian mistis rakyat sehingga sintren termasuk dalam folklor sebagian lisan. Menurut James Danandjaya, folklor sebagian lisan adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran unsure lisan dan unsure bukan lisan.

Pengertian Sintren
Menurut Budiono Herususanto, sintren adalah bentuk seni pertunjukan rakyat di wilayah jawa tengah bagian barat daerah Cilacap dan Brebes, serta wilayah Jawa bagian barat bagian timur daerah Cirebon dan Ciamis. Sintren adalah seni pertunjukkan rakyat Jawa-Sunda: Seni tari yang bersifat mistis, memiliki ritual magis tradisional tertentu yang menegangkan.

Asal Muasal Seni Sintren
sintren sebagai sebuah bentuk seni pertunjukkan rakyat di wilayah Jawa Barat bagian timur yaitu daerah Ciamis dan Cirebon. Sintren sempat digemari masyarakat antara tahun 1950 sampai 1963. Pertunjukkan seni sintren asli sempat terlihat pada tahun 1963. Seni pertunjukkan sintren sempat punah akibat 'badai politik' yang mencengangkan kedaulatan rakyat sampai sengan awal tahun 1966. Seni pertunjukkan sintren dicap sebagai 'racun yang melemahkan semangat revolusioner rakyat', versi palu arit saat itu.

Kenangan rakyat terhadap sintren masih melekat sampai dengan tahun 1990, berkat adanya merk rokok Siong yang bersimbol gambar sintren (penari berdaya serimpi), meskipun bila dicermati, gambar penari serimpi tersebut tidak mewakili gambar penari sintren yang sesungguhnya. Busana lengkap penari sintren berbeda jauh dengan penari serimpi. Mata penari ditutup dengan sapu tangan putih yang dilipat, kemudian diikatkan ke belakang kepala serta memakai kacamata berwarna hitam.

Rokok Siong adalah rokok yang berukuran sebesar jari kelingking, beraroma khas Klambok-menyan Siong. Sintren menyatu kedalam rokok dan merek karena rokok tersebut menjadi kegemaran para sintren, khususnya pada saat penari Sintren yang masih perawan kencur (gadis yang masih belum haid) sedang manggung.

Definisi Seni Sintren
Pemaknaan kata "Sintren" yang menyesatkan orang harus diganti dengan makna yang benar. Sintren merupakan bentuk seni pertunjukkan rakyat di wilayah Jawa Tengah bagian barat daerah Cilacap dan Brebes, serta wilayah Jawa Barat bagian timur daerah Cirebon dan Ciamis. Sintren adalah seni pertunjukan rakyat Jawa-Sunda: Sei tari yang bersifat mistis, memiliki ritus magis tradisional tertentu yang mencengangkan. (Budiono Herususanto, 2008: 207)

Sintren adalah sebutan kepada peran utama dalam satu jenis kesenian. Tapi akhirnya sebutan itu menjadi satu nama jenis kesenian yang disebut sintren. Sintren sendiri berasal kata sasantrian artinya meniru santri bermain lais, debus, rudat atau ubrug dengan menggunakan magic (ilmu ghaib).

Pertunjukan Seni Sintren
Pertunjukan seni sintren biasanya dilaksanakan pada malam hari, pada saat bulan purnama di musim kemarau. Jaman dahulu saat belum ada listrik masuk desa, pertunjukkan sintren ini menggunakan lampu ting (lentera) dan obor bambu sebagai alat penerangnya. Pertunjukkannya digelar di atas tanah yang bertikar mendhog (batang rumpt rawa). dikelilingi lima buah obor bambu setinggi satu setengah meter yang ditancapkan di atas tanah. Namun jaman sekarang sudah berubah, listrik sudah masuk desa, pemakaian obor sudah jarang digunakan karena sudah digantikan dengan lampu.

Ditengah arena pertunjukan dipasang sebuah kurungan ayam jago yang terbuat dari bambu. Lokasi penontonnya disiapkan untuk mengiringi arena pertunjukkan. Goyangan nyala obor yang tertiup angin, menjadikan cahaya di arena pentas itu terlihat berbinar-binar, bergelombang-gelombang, berubah-ubah arah sesuai arah angin. Lentera-lentera dipasang mengelilingi halaman untuk mrnerangi tempat duduk penonton yang lesehan (duduk diatas tikar) atau di rumput halaman. (Budiono Herusatoto, 2008:210)

Lagu-lagu dolanan anak-anak Jawa, seperti ilir-ilir, Cublek-cublek Suweng, Padang Rembulan, Unthuluwuk, Pring Rektek, Cing Cangkeling, Pacici-cici Putri, dan Slep Dur dinyanyikan oleh segerombolan anak SD untuk menunggu penonton datang ke arena pertunjukkan. Setelah waktu shalat isya, nyanyian dolanan tersebut digantikan oleh group kesenian rakyat Tanjidor, sebagai pengirig tarian sintren dengan lagu shalawatan. Instrumen tanjidor terdiri dari gendang, terbang, dua buah genjring, bedug, dan terompet.

Setelah tanjidor keluar, beberapa saat kemudian keluarlah pawang sintren laki-laki diiringi Tanjidor yang lansung mengiringi arena pertunjukan. Pawang laki-laki tersebut berhenti sejenak  ditengah arena sambil memegang-megang kurungan ayam sambil membaca mantra. Sang pawang tersebut sedang memohon kepada seluruh penonton yang datang, khususnya mereka yang mempunyai ilmu tinggi (ilmu tenaga dalam) untuk tidak mengganggu jalannya pertunjukkan agar acara pertunjukkan tersebut dapat berjalan lancar. Kemudian pawang perempuan muncul dengan membawa seperangkat pakaian sintren, yang terdiri dari kain batik parang, segulung angkin (sabuk kain beledu bersulam) dan stagen (sabuk kain panjang dua setengah meter yang digulung), blus beledu hitam penari sintren dengan sulam hias berwarna perak dan emas, selendang tari, kuluk (mahkota) berhias bulu merak, sepasang samping (hiasan daun telinga berjuntai), hiasan kalung penari putrid, sapu tangan putih dan tali lawe (tambang benang) berisi bedak, sisir, kaca rias kecil, dan kacamata hitam.

Seperangkat pakaian itu ditumpuk rapi diatas baki (dulang). Kemudian ada lagi baki kecil yang berisi gelas kosong, satu gelas air puti, satu piring kemang telon (tiga macam bunga: mawar merah putih, kenanga, dan kanthil), satu ikat kinag 9 sirih, rokok siong, dan pemantik api. Kedua baki tersebut diletakkan di dalam kurungan. Kemudian kurungan ditutup rapat-rapat dengan dua kain batik warna tua/gelap. Sementara itu, pawang laki-laki membakar kemenyan diatas bara api yang telah disiapkan di atas layah (piring dari tanah liat). Yang diputar-putar di atas dan sekeliling kurungan ayam tersebut. 

Pawang perempuan keluar arena dan kembali lagi mengiringi seorang remaja putri memakai rok atau pakaian yang dikenakan sehari-hari. Pawang perempuan dan remaja putri tersebut duduk berdampingan di sebelah timur kurungan, sedangkan pawang laki-laki duduk disebelah barat kurungan. Mereka bertiga menghadap kurungan, lalu sang pawang laki-laki meninta penonton untuk berdoa bersama-sama kepada Tuhan yang Maha Esa agar dikaruniai keselamatan dan kelancaran atas jalannya pertunjukkan tersebut.

Pawang laki-laki tersebut kemudian membuka sedikit kurungan, lalu pawang perempuan mengambil tali lawe yang ada di dalamnya dan mengikat erat-erat tangan remaja putri tersebut ke belakang badannya. Iringan Tanjidor berhenti digantikan oleh nyanyian lagu dolanan dolanan sama seperti awal pertunjukkan. Remaja putri sebagai calon sintren membungkuk masuk ke dalam kurungan yang telah dimiringkan ke arah barat oleh pawang laki-laki, dengan diiringi lagu Padang Rembulan dan Ilir-ilir.

Kurang lebih duapuluh menit kemudian, kurungan sintren dibuka oleh pawang laki-laki, lalu sintren pun keluar dengan dandanan yang sudah rapih, cantik, mengenakan semua perlengkapan pertunjukkan tadi. Pada geas kosong terlihat air ludah sirih dan sisa kunyahannya. Kemudian sintren menari dengan monoton, lucunya sintren menari menggunakan kacamata hitam. Para penonton yang berdesak-desakan mulai melempari sintren dengan uang logam, dan begitu uang logam mengenai tubuhnya, maka sitren akan jatuh pingsan. Setelah itu, sintren akan dimasukkan kembali kedalam kurungan. Pawang laki-laki pun kembali membacakan mantra-mantra, setelah beberapa saat kurungan dibuka kembali, dan sintren tersebut berpakaian sehari-hari menjadi remaja puti biasa. Kain, pakaian, dan perlengkapan lainnya kembali terlipat dan bertumpuk seperti semula meski serapi sebelumnya.

Makna Seni Sintren
Semula dalam konstruksi awal penelitian masih menggunakan kesimpulan para ahli kesenian Jawa yang menganggap bahwa kesenian rakyat, termasuk sintren, sebagai releksi dari masa lalu pre-history yang masih kental dengan tradisi animisme yang menggunakan medium shaman (medium untuk menggunakan manusia yang menari-nari diiringi bunyi-bunyian sampai mencapai keadaan tidak sadarkan diri). Tetapi setelah mempelajari lebih jauh dan memperhatikan bentuk pentasnya muncul sebuah penyangkalan akan wacana dominan tentang kesenian rakyat itu. Sebab, ternyata sintren adalah pantulan masa lalu masa rakyat yang berhubungan dengan kolonialisme masalalu indonesia. Dalaam beberapa kali wawancara Rumseko Setyadi dengan pelaku kesenian ini memang tidak terungkap masalah ini. tetapi berdasarkan penelitiannya terhadap syair-syair yang dinyanyikan untuk mengiringi pementasan dan ragam atribut yang dikenakan penarinya, maka sebuah hipotesis awal yang diambil Rumseko Setyadi adalah sebuah symbol dan siasat kebudayaan tertentu dari masa lalu dalam tradisi sintren masa kini tersebut. (Budi Susanto, S.J, 2009: 239-240)

Menurut Rumseko Setyadi mengemukakan bahwa transformasi kekuasaan di pesisir dari kekuasaan Mataram ke pemerintah kolonial ditengarai sebagai munculnya kesenian sintren ini. Sintren adalah kesaksian dari sebuah kebudayaan kolonial yang pernah berkembang di kalangan elite birokrasi Eropa dan aristokrat pribumi, yaitu kegemaran berpesta dan dansa-dansa mewah di gedung-gedung pertunjukan. Untuk meniru gaya borjuasi kolonial, rakyat membuat suatu bentuk kesenian yang merupakan ekspresi imitasi dari sebuah produk kebudayaan elite dan kemudian terciptalah sintren. Sintren pernah digunakan sebagai alat perlawanan pada masa koonial dahulu melalui syair-syair dalam lagunya. Sintren mulai dikenal dan populer pada 1940-an. Pada periode 1950-an, sintren banyak dimanfaatkan oleh puluhan partai yang berebut kekuasaan. Namun, perkembangan sintren mulai redup pada masa Orde Baru. Terlepas dari itu, menurut Fandy Hutari, kesenian sintren merupakan perlambangan kebebasan. Ini dapat kita lihat dari bentik pertunjukkannya. Adegan saat sintren diikat dengan seutas tali dan dimasukkan kedalam kurungan, itu merupakan lambang kebebasan yang direnggut. Saat sintren terbebaskan dari tali yang mengikatnya merupakan simbol kebebasan . Diikuti dengan menari sebagai ekspresi dari kebebasan tadi.

Sekarang, sintren biasanya digelar pada upacara pernikahan/hajatan atau upacara laut. Tidak hanya di Cirebon, sintren juga dapat ditemui di daerah-daerah pesisir lainnya, seperti Pamanukan, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan. Bahkan sintren juga bisa ditemukan di Pekalongan, Tegal, dan Batang, Jawa Tengah. Belakangan, kesenia ini jarang ditemui, bahkan ditempat lainnya sekalipun. Seperti halnya kesenian tradisional lain, sintren mulai tersisi oleh kesenian dan hiburan modern.

Kesimpulan
Sintren merupakan bentuk seni pertunjukkan rakyat di wilayah Jawa Tengah bagian barat daerah Cilacap dan Brebes, serta wilayah Jawa Barat bagian timur daerah Cirebon dan Ciamis. Sintren adalah seni pertunjukkan rakyat Jawa-Sunda; seni tari yang bersifat mistis, memiliki ritus magis tradisional tertentu yang mencengangkan. (BudionoHerusutoto, 2008: 207)

Kesenian ini memiliki makna antara lain:

  • Bentuk komunikasi manusia dengan roh dunia lain.
  • Pencarian petunjuk karena dari simbol-simbol yang terjadi waktu pertunjukkan sintren dipercaya memiliki makna (bidadari mara, senang, akan ada bahaya), dalam kasus tertentu sintren juga sering dimintai obat.
  • Bentuk tolak bala karena komunikasi antara dunia manusia dan dunia roh, dipercaya akan menghindarkan bahaya.
  • Pemantapan terhadap sistem kepercayaan pada dunia gaib.
  • Sebagai simbol kebebasan.


Sumber: https://id.scribd.com/doc/49036832/Makalah-Folklor-Jawa-Sintren