Sintren adalah jenis kesenian tradisional yang tumbuh dan berkembang secara turun temurun sejak ± tahun 1957. Sintren berasal dari kata “ Sasantrian “ yang pada mulanya kesenian ini adalah merupakan seni hiburan rakyat yang sering di tampilkan pada sore hari sambil melepas lelah setelah seharian bekerja keras di sawah. Pada pertunjukannya peran sintren harus dibawakan oleh seorang gadis yang masih suci (belum adil balig). Begitu pula dengan pawang sintren tidak boleh diperankan oleh orang sembarangan, akan tetapi harus dibawakan oleh sesepuh semacam kiyai sehingga peran sintren yang sudah di ikat dalam kurungan akan dapat berubah memakai pakaian sintren dalam keadaan“Transparan”.


Di tengah-tengah kawih, muncullah Sintren yang masih muda belia. Yang konon haruslah seorang gadis, karena kalau Sintren dimainkan oleh wanita yang sudah bersuami, maka pertunjukan dianggap kurang pas. Kemudian sintren diikat dengan tali tambang mulai leher hingga kaki, sehingga secara logika, tidak mungkin Sintren dapat melepaskan ikatan tersebut dalam waktu cepat. Lalu Sintren dimasukan ke dalam sebuah carangan (kurungan) yang ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Gamelan terus menggema, dua orang yang disebut sebagai pawang tak henti-hentinya membaca doa dengan asap kemenyan mengepul. Dan Juru kawih pun terus berulang-ulangnembang.


Seorang gadis tak sadarkan diri saat dibaringkan di atas tikar dan kain kafan. Dia diikat dengan tambang lalu ditutupi kain kafan dan terpal. Musik dari organ, kendang dan gitar mengalun monoton mengiringi lagu 'Kembang Rebung', lagu dengan irama Pantura yang dinyanyikan seorang sinden.


Tak jauh dari si gadis itu terdapat kurungan bambu tertutup kain warna hitam. Para pawang menabur kemenyan di atas tungku yang menyala, bau kemenyan segera semerbak.

Tiba-tiba sang pawang mengayunkangolok ke arah tubuh yang terbungkus kain dan terpal. Penonton terkesiap dan nampak kaget, namun rupanya di balik terpal itu hanya berisi ruang hampa, tak ada gadis yang tadi dihipnotis. Gadis itu hilang.

Musik terus mengalun, dua penari membuka kurungan di mana gadis tadi sudah berada di dalamnya, masih berbaring dan terikat tambang, tapi ia sudah berkostum penari sintren warna merah dengan tunik-tunik emas menyala. Dia juga mengenakan selendang, mahkota dan kacamata hitam.

Gadis itu berdiri dan menjelma jadi sintren. Ia menari lincah mengikuti gerakan penari lainnya. Namun wajah gadis itu tampak datar, bahkan dingin. Kacamata hitam yang dikenakan menambah aura mistis. Sang sintren akan pingsan ketika penonton melemparkan uang ke tubuhnya.

Adegan tersebut biasa ditampilkan para seniman sintren. Pimpinan Sintren Sekar Laras, Darto JE, Majalengka, Jawa Barat, mengatakan tidak mudah menjadi seorang sintren, ada syarat mutlak yang harus dimilikinya.

"Syarat jadi sintren ini kan harus virgin. Kalau tidak, tidak bisa jadi sintren," ujarnya saat berbincang dengan Merdeka Bandung.

Darto menjelaskan, sintren merupakan simbol dari sosok manusia yang menjaga kesucian. Sebab itulah seorang penari sintren harus tetap perawan. Jika manusia selalu menjaga kesucian, maka di dunia dan akhirat ia akan mendapat kesucian pula.

Keperawanan sendiri terkait dengan kacamata gelap yang senantiasa dikenakan sintren. Jika sintren itu seorang perawan, begitu keluar dari kurungan penglihatannya tetap akan terang, auranya akan memancar dari wajah dan tariannya.

"Jadi kalau dia virgin wajah cantiknya akan muncul. Sebaliknya kalau tidak virgin dia tidak bisa jadi sintren, malah hasilnya biasanya buruk," tuturnya.

Seni sintren banyak mengandung simbol. Seorang gadis yang diikat sebagai simbol dari perlunya mengekang hawa nafsu. Gadis ditutup dengan kain kafan menyimbolkan bahwa hidup akan berujung pada kematian. Semua itu mengingatkan manusia agar selalu menunaikan amal baik dan menjauhi perbuatan buruk. "Hidup ini kan tergantung amal-amalan," terangnya.

Sintren Sekar Laras di bawah Darto JE sudah 10 tahun berdiri. Jika Sintren Sekar Laras sedang main di Bandung, ia akan mengontak penari sintrennya yang tinggal di Bandung. Jika kelompok ini main di luar Bandung, sintren lain dipanggil.

Selama ini, Sintren Sekar Laras sudah memiliki enam angkatan sintren. Sintren angkatan sebelumnya sudah tidak bisa lagi jadi sintren karena sudah menikah atau berkeluarga.

Sintren Sekar Laras salah satu kelompok seni tradisional yang masih eksis di tengah budaya modern. Mereka tetap main dari kampung ke kampung, dari kota ke kota untuk menunjukkan kearifan lokal.

Sintren merupakan kekayaan budaya bangsa yang harus dilestarikan. Pemerintah diharapkan tidak membiarkan para seniman tradisional ini hidup sendirian

Nilai estetis pertunjukan kesenian Sintren dapat dilihat dari sisi pemain (penari Sintren, Bodor, pawang, sinden, pemusik) dan penonton dalam satu arena pertunjukan. Selain itu, keindahan pertunjukan kesenian Sintren dapat dilihat dari penampilan penari Sintren yang pada saat menari tidak sadarkan diri dan adegan yang menjadi keunggulan dalam pertunjukan yaitu balangan, temoan, nunggang jaran dan mburu Bodor. Keindahan yang lain dapat dilihat dari perlengkapan pertunjukan kesenian Sintren, yaitu kurungan, sampur, jaranan dan sesaji. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana bentuk pertunjukan dan nilai estetis yang terkandung dalam pertunjukan kesenian Sintren Retno Asih Budoyo. Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk pertunjukan dan menganalisis nilai estetis yang terkandung dalam pertunjukan kesenian Sintren Retno Asih Budoyo. Manfaat teoritis penelitian ini adalah untuk menambah referensi tentang nilai estetis pertunjukan kesenian Sintren Retno Asih Budoyo dan manfaat praktis penelitian ini adalah peneliti dapat menjalin hubungan yang baik dengan paguyuban kesenian Sintren Retno Asih Budoyo. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Tahapan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi. Teknik analisis pengumpulan data melalui reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Teknik keabsahan data yang digunakan adalah teknik triangulasi sumber, teknik dan waktu. Hasil penelitian nilai estetis pertunjukan kesenian Sintren Retno Asih Budoyo adalah pertunjukan dilaksanakan dipelataran dan tidak ada batasan antara pemain dan penonton. Penampilan kesenian Sintren terbagi menjadi tiga bagian yaitu awal pertunjukan, inti pertunjukan dan akhir pertunjukan yang memiliki 10 adegan dan 15 ragam gerak. Pertunjukan dilengkapi oleh beberapa properti seperti kurungan, sampur, jaranan dan sesaji. Nilai estetis pertunjukan dapat dilihat dari adegan-adegan unggulan pertunjukan, yaitu adegan temoan dimana penari Sintren membawa nampan berjalan kearah penonton untuk meminta sumbangan, balangan dimana penonton membalang sampur yang berisi uang kepada penari Sintren dan seketika Sintren pingsan, nunggang jaran dimana penari Sintren menaiki Bodor yang berperan sebagai kuda, mburu Bodor dimana penari Sintren menghalang-halangi Bodor yang hendak pergi meninggalkan penari Sintren. Kesimpulan bahwa kesenian Sintren Retno Asih Budoyo memiliki keindahan yang dapat menghibur masyarakat. Saran kepada masyarakat agar menanggap pertunjukan kesenian Sintren agar kesenian Sintren tetap lestari.
Sumber: