Pengenalan Kesenian Tradisional sebagai Upaya Pelestarian Kesenian
Kesenian dalam prosesnya dari masa ke masa senantiasa mengalami perkembangan dan perubahan. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan zaman dan kondisi masyarakat yang selalu berubah. Kesenian dapat menjadi tidak berfungsi lagi dalam masyarakat apabila simbol dan normanya tidak lagi didukung oleh lembaga-lembaga sosialnya (Yoeti, 1986: 45). Upaya mengenalkan suatu jenis kesenian kepada individu ataupun kelompok tidak terlepas dari adanya proses sosialisasi. Proses sosialisasi berkaitan dengan proses pembelajaran kebudayaan dalam hubungannya dengan sistem sosial. Dalam proses sosialisasi, seorang individu dari masa anak-anak hingga masa tuanya belajar mengenai pola-pola tindakan dan interaksi dengan individu lain di sekelilingnya yang menduduki peranan sosial yang berbedabeda. Begitu pula halnya dengan upaya mengenalkan suatu bentuk kesenian, khususnya kesenian daerah, kepada seorang individu, maka proses sosialisasi harus dilakukan sejak usia dini agar saat dewasa, ia dapat mengenalkan dan mengembangkannya kepada orang lain. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memungkinkan terciptanya suatu perubahan yang baru dalam pola kehidupan masyarakat. Salah satu cirinya yaitu adanya kesan penyeragaman keseluruhan budaya dengan pola dan nuansa peradaban global yang bercirikan modern.
Demikian halnya dengan kesenian tradisional, yang dengan ciri khusus yang dimiliki oleh masyarakat dengan etnik yang beranekaragam tetapi tetap memegang adat dan tradisi, pada saat ini kedudukannya sudah mulai tergeser oleh lahirnya kesenian non-tradisional. Hal ini disebabkan antara lain oleh (1) semakin terbukanya interaksi budaya antar bangsa yang memungkinkan terjadinya perkembangan dalam segala bidang, terutama teknologi komunikasi dan informasi, (2) adanya anggapan bahwa kesenian tradisional merupakan kesenian yang kuno dan ketinggalan zaman, yang mengakibatkan kesenian tradisional telah kehilangan daya tariknya yang semula sangat erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat pendukungnya.
Keberadaan kesenian tradisional seperti yang diungkapkan dalam uraian di atas, tentunya bukan sebuah hasil akhir yang dikehendaki, akan tetapi diperlukan usaha untuk tetap mempertahankan keberadaannya, agar kesenian tradisional tetap utuh dan tetap menjadi milik masyarakat pendukungnya. Edi Sedyawati (1981: 48) mengungkapkan bahwa, alasan-alasan untuk mempertahankan seni tradisional antara lain untuk pengenalan secara luas; sering suatu keakraban dengan sesuatu yang dikenal sebagai suatu landasan untuk menggerakan karya bagi seniman untuk terwujudnya apresiasi bagi si penikmat dan kenyataan adanya arus deras pengaruh dari luar tradisi-tradisi yang memungkinkan timpangnya keseimbangan.
Kebudayaan daerah merupakan salah satu unsur kebudayaan nasional, oleh karena itu harus dikembangkan dan dilestarikan agar keberadaannya tidak hilang. Dalam Pasal 32 Ayat 1, UUD 1945, perkembangan kebudayaan daerah sebagai unsur kebudayaan nasional dijamin oleh Negara; Pasal tersbut yang berbunyi: “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.” Demikian pentingnya eksistensi kebudayaan daerah sebagai unsur kebudayaan nasional, sehingga keberadaannya perlu diberi ruang ekspresi untuk dikembangkan. Sebagai seorang seniman, Putu Wijaya berpendapat bahwa hal yang penting dalam upaya mempertahankan dan menghidupkan kembali kesenian tradisional sekarang ini ialah menunjukkan bahwa kesenian itu memang ada. Bagi Putu Wijaya kesenian adalah suatu “investasi” walaupun pada saat ini seperti dinomorduakan dari yang lain (Yoeti, 1986: 46-54).
Secara singkat dapat dikatakan bahwa terdapat alasan-alasan untuk mempertahankan kesenian tradisional, yaitu jelas tidak semata-mata menjadikannya barang mati, kesenian tradisional merupakan jenis kesenian yang menunjukkan unsur-unsur yang memberi ciri sebagai puncak-puncak kebudayaan lama dan asli (Suhamihardja, 1996: 34). Salah satu usaha untuk mempertahankan kesenian tradisional yaitu dengan jalan memelihara dan membina seni budaya yang dimiliki.
Adapun tindakan-tindakan yang dapat ditempuh untuk tetap memelihara kebudayaan yang ada adalah sebagai berikut.
  1. Pendokumentasian secermat mungkin dengan menggunakan berbagai media yang sesuai, hasil dokumentasi ini selanjutnya dapat menjadi sumber acuan, tentunya apabila disimpan di tempat yang aman dan diregistrasi dengan kemungkinan penelusuran yang mudah.
  2. Pembahasan dalam rangka penyadaran, khususnya mengenai nilai-nilai budaya, norma dan estetika.
  3. Pengadaan acara penampilan yang memungkinkan orang mengalami dan menghayati (Sedyawati, 1981: 3).
Tanpa ketiga tindakan di atas, pelestarian dan pengembangan mungkin tidak akan terjadi dengan sendirinya secara alamiah. Adanya tantangan di luar kebudayaan yang bersangkutan dapat merupakan kekuatan tandingan yang dapat mengalahkan atau menggeser kebudayaan yang ada, terlebih lagi apabila kebudayaan dari luar tersebut pengaruhnya lebih kuat. Salah satu alasan untuk mempertahankan seni pertunjukan tradisional yaitu bahwa seni pertunjukan dapat dijadikan suatu landasan untuk mendorong para seniman agar tetap aktif berkreasi, serta untuk mewujudkan suatu bentuk apresiasi seniman yang hasilnya dapat dinikmati semua orang. Alasan lain yang membuat usaha menghidupkan seni pertunjukan tradisional yang patut dibicarakan adalah kenyataan adanya arus deras pengaruh dari luar tradisi-tradisi yang memungkinkan timpangnya keseimbangan.
Pandangan yang menganggap segala sesuatu yang baru, yang datang dari luar sebagai tanda kemajuan, tanda kehormatan, sedangkan segala sesuatu yang ke luar dari lingkungan sendiri dianggap sebagai hal yang kampungan, ketinggalan zaman. Munculnya pemikiran seperti itu pada dasarnya disebabkan oleh kekurangan pengetahuan akan perbendaharaan kesenian, juga karena kesenian sendiri itu pun sudah menjadi suatu “bentuk tiruan” yang dapat menimbulkan rasa bosan terhadap para penikmatnya (Sedyawati, 1981: 51). Seni pertunjukan yang berasal dari lingkungan-lingkungan etnik umumnya mendapatkan pengembangannya di kota-kota, suatu tempat kedudukan yang mempunyai sekelompok ciri umum yang selalu terdapat di mana-mana, yaitu untuk menyebut hal-hal yang berhubungan dengan kesenian saja (Sedyawati, 1981: 53-54), berupa (1) adanya tempat yang tetap untuk mempergelarkan kesenian; (2) adanya sistem imbalan jasa berupa uang untuk seniman yang mempergelarkan kesenian; (3) adanya dasar kesepakatan harga sebagai landasan untuk mempergelarkan kesenian; (4) adanya kecenderungan pengkhususan dalam memilih bidang kegiatan sebagai kesenimanan yang cenderung untuk dikejar sebagai profesi.
Di samping usaha untuk mempertahankan kesenian tradisional, perlu kiranya dilakukan pula suatu usaha pengembangan kesenian tradisional, karena dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, kesenian tradisional mengalami perubahan baik dari segi fungsi, makna maupun struktur penyajiannya. Usaha untuk mengembangkan kesenian tradisional antara lain dilakukan dengan meluaskan wilayah pengenalannya, dimulai dari wilayah kecil di sekitar masyarakat pendukungnya sendiri sampai kepada wilayah yang lebih luas di luar wilayah masyarakat pendukungnya sehingga kesenian tradisional dapat dikenal oleh masyarakat di luar masyarakat pendukungnya.
Dalam mengembangkan kesenian tradisional tentunya harus ditunjang oleh aktifitas yang dilakukan oleh berbagai pihak yang terkait, di antaranya ialah pelaku seni, pemerhati seni dan masyarakat. Perkembangan kesenian tradisional dapat dilihat di daerah-daerah yang memberikan perhatian penuh terhadap kelangsungan seni tradisional. Dengan begitu kesenian tradisional yang pada awalnya muncul di daerah sebagai sarana, mulai diangkat ke dalam sebuah pertunjukan karena masih mendapat perhatian dari masyarakat pendukungnya. Masalah yang saat ini umumnya dialami oleh suatu kelompok kesenian dalam menggelar pertunjukan adalah dari segi dana. Hal ini disebabkan oleh besarnya dana yang dibutuhkan untuk menggelar suatu pertunjukan.
Selain hal tersebut juga karena peringkat utama kebutuhan masyarakat, terutama kalangan bawah sebagai pendukung kesenian daerah dan kesenian tradisional pada saat ini adalah kebutuhan ekonomi, sedangkan kebutuhan akan unsur hiburan atau rekreasi merupakan peringkat yang rendah. Alasan tersebut ditambah lagi dengan alasan yang sangat kuat yaitu karena pada masa sekarang hiburan, tontonan dan pementasan kesenian dapat diperoleh dengan mudah hanya dengan memilih saluran-saluran TV, yang menyajikan kepada masyarakat bermacam-macam pilihan hiburan, tontonan dan pementasan kesenian yang dikemas dengan menarik, dan seringkali lebih menarik dari pada kesenian daerah dan kesenian tradisional.
Kesenian Sintren Terlupakan dan Terabaikan
Kesenian Sintren merupakan salah satu kesenian tradisional yang sekarang ini sudah hampir terlupakan dan terabaikan. Oleh karena itu keberadaannya senantiasa harus kita jaga dan lestarikan; salah satu upayanya yaitu pengenalan kesenian tradisional yang harus dilakukan sejak dini kepada generasi muda bangsa yang majemuk ini. Bukan hanya pelestarian, kita juga harus bisa melakukan pengembangan-pengembangan terhadap kesenian tradisional seperti Sintren, yang dapat dilakukan dengan berbagai aktifitas dan bantuan dari berbagai pihak supaya kesenian Sintren ini akan tetap dan masih diminati oleh semua lapisan masyarakat.
Sintren merupakan kesenian rakyat yang telah mengakar di pesisir utara Jawa, setidaktidaknya mulai dari Cirebon sampai wilayah Brebes dan Pemalang, bahkan mungkin sampai wilayah-wilayah Kendal hingga Pati dan Blora. Ada beberapa pengertian tentang sintren. Ada yang menafsirkan bahwa sintren berasal dari kata sesantrian, yang artinya meniru perilaku dan cara berpakaian santri. Ada pula yang menafsirkan sintren itu berasal dari kata sintru, yang artinya angker. Apapun pengertian dari sintren, kesenian ini memang unik, bahkan kalau bisa dibilang penuh unsur magis di dalamnya, namun tetap memesona.
Kelompok kesenian sintren terdiri dari seorang juru kawih atau sinden, seorang penari sebagai tokoh sentral, yang diiringi oleh beberapa pemain musik gamelan, alat musik pukul menyerupai gentong, rebana, gendang, gong, dan kecrek. Sebelum pertunjukan dimulai, seorang sinden menyanyikan sebuah tembang yang dimaksudkan untuk memanggil para penonton agar segera berkumpul. Sinden biasanya menembang sebanyak dua tembang: pertama dimaksudkan untuk mengundang penonton, dan berikutnya bertujuan memanggil seorang pemain sintren keluar. Syair tembang yang pertama berbunyi sebagai berikut: Tambak tambak pawon/Isine dandang kukusan/Ari kebul-kebul/wong nontone pada kumpul. Sedangkan syair tembang yang kedua berbunyi: Kembang trate/Dituku disebrang kana/Kartini dirante/Kang ngrante aran mang rana.
Unsur magis dalam pertunjukan sintren terlihat dengan adanya juru sintren yang bertugas memanggil bidadari. Bidadari ini kemudian merasuk ke dalam raga pesintren. Pemain sintren diharuskan perempuan yang masih gadis belia antara usia 14-16 tahun, dan masih perawan. Syarat ini tak boleh dilanggar. Alasannya, jika seorang sintren tidak lagi perawan, bidadari yang dipanggil dari kahyangan tidak akan turun ke dalam arena pertunjukan. Rohnya tidak akan sudi merasuk ke diri seorang sintren.
Pertunjukan sintren layaknya permainan sulap, diiringi tetabuhan khas daerah pesisir, sintren diikat dengan seutas tali, dari leher hingga kaki. Secara akal sehat, sang penari tak bisa lagi bergerak, apalagi melepaskan tali itu dalam waktu yang sangat singkat. Kemudian sintren dibaringkan di atas tikar dan dibungkus dengan tikar tersebut. Selanjutnya sintren dimasukkan ke dalam kurungan ayam yang telah ditutup kain, setelah sebelumnya diberi bekal pakaian pengganti. Dalam prosesi ini, pawang sintren membawa pedupaan, tempat kemenyan dibakar, serta membaca doa. Suasana mistis mendadak muncul. Itulah saat bidadari sudah turun dari kahyangan, berada di sisi penari sintren dan merasuk. Sinden berulang-ulang menembang, sebagai berikut: “Gulung-gulung kasa/Ana sintren masih turu/Wong nontone buru-buru/Ana sintren masih baru.
Tanpa bantuan orang lain, secara logika, tak mungkin sintren bisa meloloskan diri dari ikatan tali dan berganti pakaian begitu cepat. Tapi, ketika kurungan dibuka sintren telah berganti pakaian, dan tali pun sudah lepas - ajaib memang. Kemudian sintren menari dengan monoton, lucunya sintren menari menggunakan kacamata hitam. Para penonton yang berdesak-desakan mulai melempari sintren dengan uang logam, dan begitu uang logam mengenai tubuhnya, maka sintren akan jatuh pingsan. Sintren akan sadar kembali dan menari setelah diberi jampi-jampi oleh pawang. Fenomena ajaib ini sampai sekarang belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Di kalangan masyarakat, gadis-gadis berlomba untuk menjadi sintren. Menurut kepercayaan umum, gadis-gadis yang menjadi seintren akan cepat mendapatkan jodoh. Bermain sintren tak selamanya memerlukan panggung. Mereka dapat juga bermain di halaman rumah, meski beralas tikar.