Latar Belakang 
Folklor merupakan cabang prngetahuan yang berdiri sendiri di Indonesia, dimana permasalahannya tampak semakin penting untuk dibicarakan. Folklor sebagai suatu tradisi yang telah diwariskan secara turun temurun, sedikitnya dua generasi,yang dapat mereka akui bersama. pentingnya folklor untuk diketahui dan dikembangkan orang pada jaman sekarang. Seni pertunjukan rakyat yang didalamnya terdapat tarian mistis rakyat, yang dibahas dalam makalah ini adalah sintren. Sintren sebagai seni pertunjukan rakyat perbatasan antara jawa dan sunda, yang mana dalam masa sekarang sudah sangat jarang untuk dipertunjukkan. Sintren sebagai bentuk folklor yang sudah jarang dikenal masyarakat luas, terutama masyarakat asal daerah sintren pun tak mengetahui secara pasti sebenarnya sintren itu. Maka dalam makalah ini, saya mencoba memperkenalkan seni sintren agar lebih dikenal lagi. Sehingga hal ini dapat mengenalkan sintren tidak hanya sekedar asal tahu nama saja, tetapi juga mengetahui bagaimana sintren itu.

Pengertian Sintren

Sintren adalah seni pertunjukan tradisional di wilayah Banyumas yang hingga sekarang  masih bertahan ditengah arus kesenian modern. Pada dasarnya, kesenian tradisional ini tidak hanya hidup di Banyumas, tetapi juga di daerah yang masuk dalam area pesisir, diantaranya Cirebon, Pekalongan, Brebes, dan Ciamis. Untuk mendetailkan pembahasan, maka perkembangan sintren hanya difokuskan pada masyarakat Banyumas yang tinggal di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat yang termasuk dalam masyarakat daerah batas/frontier. Hipotesis frotier pertama kali diperkenalkan oleh Frederick Jackson Turner pada 1893 dalam tulisannya "The Significance of the Frontier in American History"  yang menyebutkan bahwa perpindahan penduduk dari daerah Eropa ke pedalaman Amerika, menimbulkan daerah baru, yang kemudian daerah ini disebut "Frontier". Seorang penulis lain, W.J. Eccles mengartikan "Frontier" dalam riga pengertian yang berbeda, yaitu frontier dari bagian Geografi (secara wilayah), frontier dihubungkan dengan proses adaptasi masyarakat, dan frontier karena kondisi pada suatu daerah. (Muhammad Gede Ismail, 1991: 11) Edmund Leach, peneliti Amerika Serikat yang melakukan penelitian tentang Birma, menyebut Birma sebagai "frontier" Berdasarkan letak geografis daerah itu dan kebudayaan Cina dan India. (Muhammad Gede Ismail, 1991: 11).

Sejarah Awal Hubungan Orang Sunda dan Orang Jawa di Banyumas

Sejarah Banyumas ditelusuri dengan menggunakan Babad Pasirluhur Babad Banyumas. Babad pasirluhur dikenal oleh masyarakat di wilayah Banyumas hanya memalui dongeng lisan Kamandaka yang didasarkan pada buku Carios Kamandaka. Kadang babad ini juga dikenal melalui versi folklor sastrawan rakyat seperti Layang Raden Kamandaka iya Lutung Kasarung karya Ki S. Wagino asal Banyumas. Seluruh versi cerita Kamandaka menunjukan asal-usul nama desa yang dipercaya berasal dari peristiwa yang dialami oleh Kamandaka di daerah tersebut. Nama-nama ini tersebar mulai dari daerah bagian barat Kabupaten Banyumas hingga daerah Goa Jatijajar Kabupaten Kebumen.

Babad Pasirluhur menjadi sumber legalitas para elit di sepanjang sejarah pemerintahan wilayah barat daya Jawa bagian tengah, yang kini bernama Banumas, dan bagian timur Jawa Barat. Babad ini menceritakan kisah dari zaman Kerajaan Pakuan Parahiyangan (Pajajaran) di Jawa Barat bagian Timur sejak pemerintahan Sri Prabu Linggawesi Dewa Niskala (1466-1474). Sri Prabu Linggawastu Ratu Putana Jaya Dewata (1474-1513). Sri Prabu Linggawastu memiliki empat putera yaitu Raden Harya Banyak Catra, Raden Harya Banyak Blabur,  Raden Harya Banyak Ngampar, dan Dewi Retna Pamekas. Singkatnya, keempat orang inilah yang kemudian melahirkan orang Banyumas (pada masa Hindu bernama Kadipaten Pasirluhur, kemudian pada masa Islam bernama Kadipaten Pasirbatang). Babad banyumas menceritakan sejarah wilayah Banyumas bagian timur yang terkait hubungan trah dengan Kerajaan Pajajaran-Majapahit II (1429-1522) melalui garis trah Adipati Wiautama I masa Kadipaten Wirasaba I (zaman Hindu)  maupun trah Adipati Wargahutana I (Raden Jaka Kaiman, keturunan trah Pangeran Senapati Mangkubumi II, Pasirbatang) pada masa Kadipaten Wirasaba II. Pada masa Kadipaten Wirasaba II inilah wilayah Banyumas dibagi menjadi empat kadipaten, yaitu Kejawar/ Banyumas, Wirasaba/ Purbalingga, Banjar Pertambakan/ Banjarnegara, dan Merden / Cilacap. (Boediono Herusatoto, 2008: 31-49).

Dari catatan babad-babad tersebut, tersirat bahwa Wong Banyumasan adalah pembauran antara kerajaan dan kadipaten yang memiliki unsur budaya berbeda, yaitu kerajaan Pakuan Parahiyangan (Pajajaran) dengan budaya Sundanya dan Kadipaten Pasir Luhur (Galuh) dengan budaya jawadwipanya dan akhirnya membangun suatu komunitas baru yang terus berkesinambungan dalam sejarah dan kehidupan sosial budaya yang khas sebagai komunitas perbatasan dari suku Jawa dan Sunda, bahkan di Kabupaten Cilacap, khususnya wilayah Kecamatan Majenang dan Kecamatan Patimuan, mayoritas penduduknya menggunakan bahasa Sunda Ngoko yang dicampur dengan bahasa Jawa Banyumasan.

Sejarah Sintren

Kehidupan rakyat pesisiran selalu memiliki tradisi yang kuat dan mengakar. Pada hakikatnya, tradisi yang muncul berasal dari kepercayaan terhadap nenek moyang atau bisa juga bermula dari kebiasaan dan permainan rakyat yang kemudian menjadi budaya warisan luhur. salah satu tradisi rakyat yang kemudian menjadi warisan kebudayaan luhur ialah sintren. Kesenian sintren terdapat di sepanjang pesisir utara Jawa Tengah, yaitu wilayah Cilacap, Brebes, Pekalongan, dan Jawa Barat bagian timur, yaitu Cirebon, Ciamis, dan Indramayu. Terdapat beberapa pendapat tentang asal mula sintren, tetapi ada satu cerita yang beredar di masyarakat tentang awal mula sintren, tetapi ada satu cerita yang beredar di masyarakat tentang awal mula kesenian ini, yaitu legenda Sulasih dan Sulandono.

Sulandono adalah putra Bupati dari Mataram bernama Bahurekso dengan Rr. Ramtamsari, Sulasih adalah seorang gadis desa. Mereka berdua bertemu dan kemudian terlibatlah dalam hubungan percintaan. Hubungan mereka tidak disetujui oleh orang tua Sulandono. Sulandono kemudian diperintah ibunya untuk bertapa dan diberikan selembar kain sebagai sarana kelak untuk bertemu Sulasih setelah masa bertapanya selesai. Sedangkan sulasih kemudian menjadi seorang penari pada setiap acara bersih desa yang diadakan, sebagai syarat bertemu Sulandono. Tepat pada saat bulan purnama, diadakan acara bersih desa, pada saat itulah Sulasih menari Sulandono yang mengetahui hal ini kemudian meninggalkan pertapaannya secara diam-diam untuk bertemu dengan Sulasih dengan membawa kain yang diberikan oleh ibunya. Sulasih yang menari kemudian dimasuki kekuatan spirit dari Rr. Ramtamsari sehingga mengalami kesurupan dan saat itu pula Sulandono melemparkan kain tersebut sehingga Sulasih pingsan. Saat Sulasih kemasukan roh inilah yang disebut dengan "sintren" dan pada saat Sulandono melemparkan kain tersebut dengan "balangan". Dengan ilmu yang dimiliki Sulandono, maka Sulasih akhirnya dapat dibawa kabur dan mereka berdua dapat mewujudkan cita-cita dan cinta mereka. Kondisi Sulasih yang masih perawan, kemungkinan yang menjadi dasar utama mengapa seorang penari sintren harus perawan.

Berbeda dengan legenda tersebut, ada suatu cerita logis yang dikemukakan oleh Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata Cirebon, Dr. H. Wahyo, M. Pd., menceritakan asal mula lahirnya sintren marupakan kebiasaan masyarakat nelayan untuk menghilangkan kebosanan sembari menunggu kedatangan ayah mereka dari melaut. Namun, siapa yang menciptakan dan kapan pertama kali diciptakan tidaklah diketahui secara pasti. Pertujukkan ini kemudian berkembang di tempat-tempat lainnya yang memiliki kesamaan ekologi, yaitu masyarakat pesisir pantai utara.
(http://iklan.pikiran-rakyat.com, Sintren, Seni Tradisional Bernuansa Mistis)

Sintren Jawa dan Sintren Sunda

Sintren merupakan salah satu kesenian rakyat. Ini terindikasi dari beberapa hal, pertama, kesenian ini milik masyarakat pedesaan secara kolektif, meskipun ada tokoh pembina, namun yang memiliki adalah masyarakat. Kedua ciri kesederhanaan masih menonjol dalam setiap pertunjukkan. Ketiga, ada unsur religi atau ghaib di dalamnya. (Djoko Suryo, R.M. Soedarsono, Djoko Soekiman, 19985: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan).

Sintren yang ada di wilayah Jawa Tengah bisa ditelusuri dari Cirebon (Jawa Barat). Kesenian ini sempat berakibat pada tahun  1950 hingga 1963, setelah itu sintren sempat menghilang dan muncul kembali tahun 1990-an. Penyebaran sintren tidak lepas dari kontak antar masyarakat nelayan. Sintren yang berasal dari Cirebon, kemudian dibawa ke wilayah pantai utara lainnya oleh masyarakat Cirebon yang emngadu nasib sebagai seniman. Unsur-unsur masyarakat yang sama, bahasa yang bisa dipahami, dan ketertarikan masyarakat kepada kesenian ini, mempermudah perkembangan selanjutnya, sintren berkembang di daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan wilayah Cirebon, yaitu daerah Cilacap, Brebes, dan Pekalongan. (Boediono Herusatoto, 2008: 207)

Wilayah yang berdekatan antara daerah Banyumas bagian barat dengan Kabupaten Jawa Barat, memang menjadi alasan yang tepat untuk terjadinya transfer kebudayaan di antara dua daerah ini. Wilayah Cilacap, Pekalongan, dan Brebes dengan budaya Jawanya yang berkarakeristik lembut bertemu dengan budaya Sunda yang berkarakter keras, maka jadilah suatu kesenian sintren yang berkembang dan memiliki karakter kedua budaya tersebut. Pertunjukan sintren biasanya daiadakan ketika malam bulan purnama pada musim kemarau. Prtunjukan diawali dengan tabuhan gemelan untuk mengundang para penonton, kemudian diikuti dengan Dupan, yaitu membakar kemenyan oleh sang dukun pawang dengan tujuan memohon perlindungan kepada sang Ghaib. Sebelum pertunjukan dimulai, ada bebrapa tahap yang dilakukan, tahap pertama, dukun mengikat wanita yang akan dijadikan sintren dengan tali. Tahap kedua, calon penari sintren dimasukan ke dalam kurungan besar yang di dalamnya terdapat busana dan perlengkapan merias wajah. Beberapa saat kemudian kurungan dibuka, dan sintren telah berdandan, tetapi tangan masih terikat tali, kurunganpun ditutup kembali.

Tahap ketiga, kurungan bergoyang yang menandakan sintren telah bisa ditampilkan, kurungan dibuka, sintren telah lepas dari ikatan dan siap untuk menari. Selama pertunjukan, kemenyan terus dinyalakan oleh sang dukun. Ditengah pertunjukan, ada balangan dan temohan. Balangan yaitu ketika dari arah penonton ada yang melempar sesuatu kepada sintren, yang menyababkan sintren terjatuh pingsan. 

Dengan menggunakan mantra kemenyan, sang dukun memanggil kembali arwah (disebut bidadari) untuk masuk kedalam raga penari sintren. pertunjukan kemudian dilanjutkan dengan temohan, yaitu sintren membawa wadah (tampan/nampan) dan berkeliling ke penonton meminta tanda terimakasih. Untuk lebih menyamarkan pertunjukkan, muncullah seorang penari lelaki yang disebut bodor (pelawak). pertunjukan berlangsung selama dua jam, biasanya dimulai pada pukul 8 malam. pertunjukkan berakhir dengan memasukan kembali sintren kedalam kurungan, beberapa saat kemudian kurungan dibuka, dan sang penari telah berpakaian seperti semula.

Gerak tari sintren memang tidak selembut tari serimpi (diciptakan oleh keraton Jawa) dan tidak sekeras dan setegas tari jaipongan (Jawa Barat), tari ini memiliki gerak yang lebih tegas dari tari-tari Jawa, namun lebih lembut dari tari Jawa Baratan. Gerak tari sintren ini memiliki ciri khas kebudayaan masyarakat pesisir perbatasan yang memiliki sifat "tengah-tengah", tidak nJawani tidak pula nyudani. lagu-lagu yang dinyanyikan pun berbeda antara daerah satu dengan lainnya, di Cirebon, yang dinyanyikan dalam pertunjukan ini adalah lagu Sunda, sedangkan di daerah pesisir Jawa Tengah (Cilacap, Pekalongan, dan Brebes) lagu-lagunya ialah dolanan Jawa, seperti ilir-ilir, cublak-cublak suweng, padang rembulan, unthuluwuk, pring rekktek. Namun, lagu-lagu Sunda juga tetap dilantunkan dalam pertunjukan sintren Jawa, antara lain Cing Cangkeling, Pacublek-cublek uang, Slep dur, dan Pacici-pacici Putri. (Boediono Herusatoto, 2008: 210)

Sintren dan Modernisasi

Menurut Jujun S. Suriasumantri, modernisasi adalah proses pembauran masyarakat tradisional (konvensional) menuju masyarakat yang leih majudengan mengacu pada nilai-nilai universal tersebut. Modernisasi sebagai upaya pembaharuan dalam kehidupan suatu bangsa biasanya tumbuh sebagai akibat dari dua penyebab, pertama, perubahan tentang hidup dan kehidupan sebagai akibat peningkatan kecerdasan, kedua, keterikatan dan ketergantungan umat manusia secara universal, baik secara ekonomi maupun sosial budaya. Modernisasi pada hakikatnya merupakan serangkaian perubahan nilai-nilai dasar yang berupa nilai teori, nilai sosial, nilai ekonomi, nilai estetika, nilai politik, dan nilai agama. (Daeng, Hans. J, 2000: 48)

Modernisasi telah membuka akses lebar terhadap terjadinya difusi antara budaya asli (inti) dengan budaya yang baru datang (sekunder). Sintren, sebagai suatu kesenian rakyat, juga mengalami perubahan untuk mempertahankan eksistensinya dalam persaingan di dunia hiburan rakyat. Namun, ciri kesederhanaan dari seni pertunjukan rakyat sampai sekarang tetap menonjol. Bila terjadi Sotifikasi (kecanggihan), bukan pada garapannya, tetapi hanya pada citra lahiriahnya saja. Demikian pula dengan pertunjukan sintren, perubahan tidak terjadi pada ritual kemagisannya, dalam hal ini ritual dupa, kurungan, balongan, kerasukan arwah. Perubahan terjadi pada sisi busana, lagu-lagu, alat musik, dan tempat yang digunakan. Busana yang digunakan, jika dahulu adalah kebaya (pakaian khas wanita zaman dahulu), maka busana sekarang adalah busana golek (baju tanpa lengan yang biasanya digunakan oleh penari golek). Lagu-lagu yang dilantunkan dan alat musik juga mengalami perubahan. Untuk menarik penonton, maka lagu-lagu yang dinyanyikan di awal pertunjukan, seringkali menggunakan lagu dangdut maupun campur sari yang sedang pada saat itu. Namun, ketika sintren akan memulai berdandan dan pertunjukan akan dimulai, lagu "turun sintren" menjadi lagu wajib. lagu ini dimaksudkan untuk mengundang arwah yang akan merasuki tubuh penari. Alat musik dan perlengkapan sound system juga telah menggunakan alat-alat modern sebagai penyemarak, seperti penggunaan gitar, suling, gendang, dab penggunaan microphone oleh sinden.

Tempat yang digunakan saat ini, tidak seperti jaman dulu yang ditempat terbuka diatas tanah bertikar mendhong (batang rumput rawa), dikelilingi lima obor bambu setinggi satu setengah meter yang ditancapkan diatas tanah sebagai penerangan. Di tegah arena pertunjukkan dipasang kurungan besar terbuat dari bambu yang ditutup dengan kain. setelah modernisasi, tempat pertunjukan dipenuhi dengan lampu-lampu yang terang bederang, ditengah arena pertunjukkan tetap dipasang tetap dipasang kurungan besar yang ditutup dengan kain beraneka warna. Melalui berbagai perubahan tersebut, seni pertunjukkan sintren yang saat ini tinggal di masyarakat tidaklah wingit lagi (istilah bahasa Jawa untuk menyebut "mistis"), melainkan hanya sekedar hiburan rakyat sebagai wadah mempertahankan seni budaya tradisional. Selain itu, keberadaan pertunjukkan seni tradisional tidak hanya akan melenggangkan eksistensi seni tersebut, karena biasanya selama pertunjukan berlangsung akan selalu diiringi dengan keberadaan pasar rakyat yang menyediakan berbagai makanan dan barang-barang tradisional. Makanan dan barang-barang tersebut saat ini tidaklah mudah ditemukan.

Simpulan

Sebagai masyarakat yang baik, kita bersama-sama mempelajari dan mengenalkan berbagai macam folklor di daerah misalnya sintren, dengan memanfaatkan sosial budaya, sejarah, dan sumber daya alam, dsb untuk mewujudkan hal tersenbut. Sehingga kita dapat besama-sama memandang diri serta lingkungan yang ada dengan berbagai macam folklor yang ada. Yang juga akan menghasilkan manfaat di berbagai bidang kehidupan.

Saran

Untuk para pembaca khususnya kaum muda semoga dengan ini kita bisa bersama mengetahui seni sintren. Untuk masyarakat umum semoga lebih baik lagi dalam mengolah wawasan nusantara sehingga mencapai tujuan yang diharapkan tanpa ada kecurangan maupun banyak penyimpangan yang menyertainya.


Sumber :
https://galihbahzari.blogspot.com/2017/04/makalah-kesenian-sintren.html?m=1