Haiii semua, disini saya akan membahas tentang Tarian Tradisional Sintren dari Jawa Tengah, maaf jika blog ini masih banyak sekali kekurangan. Mari kita bahasss let's go!!!
Tarian ini merupakan salah satu tarian tradisional
klasik dari Jawa tengah. Namanya
adalah Tari Sintren.
Gambar: Sintren yang sedang menari
Apakah Tari Sintren itu?
Tari Sintren merupakan salah satu tarian tradisional yang
berasal dari pesisir utara pantai Jawa tengah dan Jawa barat. selain gerak
tarinya, tarian ini juga terkenal dengan unsur mistis di dalamnya karena adanya
ritual khusus untuk pemangilan roh atau dewa. Tari Sintren ini tersebar di
beberapa tempat di Jawa tengah dan Jawa barat seperti di Cirebon, Majalengka, Indramayu, Brebes, Pemalang,
Pekalongan dan Banyumas.
Menurut sejarahnya, tarian ini berawal dari
percintaan Raden Sulandono dan Sulasih yang tidak mendapat restu dari orang tua
Raden Sulandono. Sehingga Raden Sulandono di perintahkan oleh ibunya untuk
bertapa dan diberikan selembar kain sebagai sarana kelak untuk bertemu dengan
Sulasih setelah pertapaannya selesai. Sedangkan Sulasih diperintahkan untuk
menjadi penari di setiap acara bersih desa yang di adakan sebagai syarat untuk
bertemu Raden Sulandono.
Saat pertunjukan rakyat yang diadakan untuk
memeriahkan bersih desa, pada saat itulah Sulasih menari sebagai bagian
pertunjukan. Malam itu saat bulan purnama, Raden Sulandono pun turun dari
pertapaannya dengan cara bersembunyi sambil membawa kain yang diberikan oleh
ibunya. Pada saat Sulasih menari, dia pun di rasuki kekuatan Dewi Rantamsari sehingga mengalami trance. Melihat seperti itu Raden Sulandono pun
melemparkan kain tersebut sehingga Sulasih pingsan. Dengan kekuatan yang di
miliki oleh Raden Sulandono, maka Sulasih dapat dibawa kabur dan keduanya
mewujudkan cita – citanya untuk bersatu dalam cinta. Sejak saat itulah sebutan
Sintren dan balangan muncul sebagai cikal bakal dari Tari Sintren ini.
Istilah Sintren adalah keadaan saat penari mengalami
kesurupan atau trance. Dan istilah Balangan adalah
saat Raden Sulandono melempar kain yang di berikan oleh ibunya.
Dalam pertunjukan Tari Sintren biasanya diawali
dengan Dupan, yaitu ritual berdoa bersama untuk memohon
perlindungan dari mara bahaya kepada Tuhan selama pertunjukan berlangsung. Ada
beberapa bagian dalam pertunjukan Tari Sintren yaitu Paripurna, Balangan dan Temohan. Pada bagian Paripurna adalah
bagian dimana pawang menyiapkan seorang yang akan di jadikan Sintren dengan di
temani oleh 4 pemain sebagi Dayang. Awalnya
seorang penari yang dijadikan Sintren masih memakai pakaian biasa. Pada bagian
ini diawali dengan membacakan mantra dengan meletakkan kedua tangan calon
penari Sintren di atas asap kemenyan, setelah itu penari di ikat dengan tali di
seluruh tubuhnya. Kemudian calon penari Sintren dimasukan ke dalam sangkar ayam
bersama dengan busana dan perlengkapan riasnya. Setelah sudah jadi maka akan di
tandai dengan kurngan yang bergetar dan kurungan akan di buka. Penari Sintren
tersebut pun sudah siap untuk menari.
Pada bagian Balangan adalah
saat penonton melempar sesuatu kearah penari Sintren. Saat penari terkena
lemparan itu maka penari Sintren akan pingsan. Lalu pawang mendatangi penari
yang pingsan tersebut dan membacakan mantra dan mengusap wajah penari agar roh
bidadari datang lagi dan melanjutkan menarinya. Penonton yang melemparnya tadi
di perbolehkan untuk menari dengan penari Sintren. Pada bagian Temohan adalah bagian dimana para penari Sintren
dengan nampan mendekati penonton untuk meminta tanda terima kasih dengan uang
seiklasnya.
Untuk menjadi penari Sintren ada beberapa syarat yang
harus di miliki calon penari, terutama sebagai penari Sintren harus masih gadis
atau masih perawan karena penari Sintren harus dalam keadaan suci. Selain itu
para penari Sintren di wajibkan berpuasa terlebih dahulu, agar tubuh si penari
tetap dalam keadaan suci dan menjaga tingkah lakunya agar tidak berbuat dosa
dan berzina. Sehingga dapat menyulitkan bagi roh ataun dewa yang akan masuk
dalam tubuhnya.
Dalam pertunjukannya, Busana yang di gunakan oleh penari Sintren
adalah baju golek, yaitu baju tanpa lengan yang biasa
digunakan dalam tari golek. Pada bagian bawah biasanya menggunakan kain jarit dan celana cinde. Untuk
bagian kepala biasanya menggunakan jamang, yaitu hiasan
untaian bunga melati di samping kanan dan koncer di
bagian kiri telinga. Aksesoris yang di gunakan biasanya adalah sabuk, sampur, dan kaos kaki
hitam/putih. Selain itu yang juga sebagai ciri khas dari penari
Sintren adalah kaca mata hitam yang berfungsi sebagi penutup mata. Karena
penari Sintren selalu memejamkan mata saat keadaan trance atau kesurupan,
selain itu juga sebagai mempercantik penampilan.Dalam pertunjukan Tari Sintren
juga di iringi oleh alat musik seperti Gending. Dan di
iringi dengan lagu Jawa. Namun, pada saat ini alat musik yang digunakan adalah
alat musik modern seperti orkes.
Apa Makna Tari Sintren ?
Makna simbolis pertunjukan sintren terdapat pada struktur
pembentuk pertunjukan yang meliputi:
1) pemain atau pelaku yang memfokuskan pada penari
sintren
2) perlengkapan pertunjukan meliputi kurungan, kemenyan, sesaji, tali dan doa
3) Gerak
4) Iringan dan Tembang
5) Tata rias wajah rambut dan tatarias busana
6) Penonton yang mengikuti adegan temohan dan balangan
2) perlengkapan pertunjukan meliputi kurungan, kemenyan, sesaji, tali dan doa
3) Gerak
4) Iringan dan Tembang
5) Tata rias wajah rambut dan tatarias busana
6) Penonton yang mengikuti adegan temohan dan balangan
Dalam perkembangannya, Tari Sintren mulai tenggelam seiring dengan
perkembangan jaman. Tarian ini sudah jarang di tampilkan, sekalipun di daerah
asalnya. Seiring dengan perkembangan, Tari Sintren sudah banyak
perubahan pada bentuk aslinya. Banyaknya kreasi yang di tambahkan agar tarian
ini terlihat menarik. Tarian ini merupakan tarian yang langka dan jarang di
temukan. Selain dari segi artistic tarian ini juga memiliki nilai – nilai yang
dapat kita pelajari di dalamnya. Tari Sintren ini harus kita lestarikan dan di
jaga keberadaannya sebagai warisan budaya bangsa kita.
Nah cukup sekian pengenalan tentang “Tari Sintren tarian tradisional dari Jawa tengah”.
Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang kesenian tradisional di Indonesia.


0 Komentar